Menengok Misi Berbahaya Pemulangan Etnis Rohingya ke Myanmar

Pengungsi Rohingya melakukan peringatan satu tahun di Cox's Bazar. (Foto: Reuters/Mohammad Ponir Hossain)Pengungsi Rohingya melakukan peringatan satu tahun di Cox's Bazar. (Foto: Reuters/Mohammad Ponir Hossain)

Pantau.com – Pemulangan etnis Rohingya ke negara bagian Rakhine, Myanmar, dikhawatirkan akan menciptakan situasi yang semakin berbahaya bagi kaum minoritas itu, ucap Direktur Burma Human Rights Kyaw Win.

Hal tersebut terkait rencana pemerintah Bangladesh untuk merepatriasi pengungsi dari Rakhine yang kini tinggal di penampungan di Cox’s Bazar.

“Selama mereka belum diberikan status kewarganegaraan yang jelas dan pihak yang bertanggung jawab belum diadili, maka keadaan di sana masih sangat berbahaya. Mereka membutuhkan perlindungan,” ujarnya seusai diskusi panel bertajuk ‘Ungkap Fakta Pelanggaran HAM Berat Pemerintah Myanmar atas Etnis Rohingya’ di Auditorium Adhyana di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Menurutnya, jika pemulangan tersebut tetap dilakukan, hal itu akan menjadi bentuk gagalnya misi kemanusiaan.

Tercatat pada Agustus lalu, jumlah warga etnis Rohingya yang telah meninggalkan Rakhine ke Cox’s Bazar, Bangladesh, telah mencapai 725.000 jiwa. Pada Agustus 2017, sebanyak 700.000 warga Rohingya meninggalkan Myanmar untuk menyelamatkan diri dari ‘Operasi Pembersihan’ di Rakhine.

Baca juga: Myanmar Siap Terima Gelombang Pertama Pemulangan Rohingya

“Mereka mengalami trauma yang sangat berat. Mereka telah menyaksikan dengan mata mereka sendiri berbagai tindak kekerasan dan kriminal yang terjadi. Tentu tidak akan mudah bagi mereka untuk kembali ke Myanmar begitu saja,” ujarnya.

Ia mengaku sempat melakukan percakapan dan wawancara dengan beberapa pengungsi Rohingnya di Cox’s Bazar. “Mereka mengaku lebih baik bunuh diri daripada kembali ke Rakhine dengan kondisi saat ini. Akan menjadi keputusan yang sangat salah dan tidak etis untuk mengirim mereka kembali ke sana sekarang ini,” imbuhnya.

Sementara itu, penundaan pemulangan etnis Rohingya juga digarisbawahi oleh perwakilan Indonesia di Komisi HAM ASEAN atau ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) Dinna Wisnu yang mengatakan, agenda repatriasi itu harus ditunda sampai situasi sudah kondusif dan para pelaku telah diminta pertanggungjawaban. Jika tidak, Myanmar akan menjadi semakin buruk.

Baca juga: China Siap Bantu Bangladesh untuk Pemulangan Pengungsi Rohingya

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi