Pantau Flash
WNI di Kapal Diamond Princess 'Kecewa' Jika Evakuasi Lewat Jalur Laut
Pesan BOPI untuk LIB: Jangan Ada Kericuhan di Liga 1 2020
Jelang Akhir Pekan Rupiah Melemah Rp13.760 per Dolar
Sebastian Vettel: SF1000 Jelas Lebih Meningkat Dibanding Tahun Lalu
Maskapai Global Diprediksi Kehilangan Rp400 Triliun Akibat Wabah Korona

Naas, Pasangan Ini Tewas Demi Selamatkan Rumah Dari Kebakaran Hutan Amazon

Headline
Naas, Pasangan Ini Tewas Demi Selamatkan Rumah Dari Kebakaran Hutan Amazon Pasangan petani Eidi dan Romildo meninggal dunia ketika mencoba untuk menyelamatkan rumah mereka (Foto: Album Keluarga)

Pantau.com - Pasangan petani Eidi dan Romildo meninggal dunia ketika mencoba untuk menyelamatkan rumah mereka. Rumah kayu beratap jerami itu kini tinggal puing. Di sanalah pasangan Eidi Rodrigues dan suaminya Romildo pernah hidup. Mereka bangga terhadap rumah tersebut.

Pasangan ini tinggal di Machadinho D'Oeste, sebuah desa pertanian 350 km sebelah selatan Porto Velho, ibukota negara bagian Rondonia di kawasan Amazon, Brazil.

Wilayah ini penuh dengan sengketa agraria. Juga lazim bagi penduduk di sana membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan.

Api selalu menjadi ketakutan bagi pasangan Eidi dan Romildo. Mereka khawatir api bisa datang dari tetangga dan menyebar hingga halaman belakang, terutama saat kemarau.

Naas, hal itu sungguh terjadi pada tanggal 13 Agustus lalu. Mereka meninggal dunia ketika berusaha melindungi rumah mereka dan terdesak ketika kobaran tak terkendali.

"Penduduk biasanya membersihkan lahan dengan membakar. Namun hari itu sangat berangin. Api menyebar cepat dan tak ada waktu untuk lari," kata Jeigislaine Carvalho, salah satu anak Eidi kepada BBC.

Baca juga: WHO: Kebakaran Hutan Amazon Mengancam Kesehatan Anak-anak

Tahun ini, jumlah kebakaran di Amazon merupakan yang tertiggi sejak 2012. Ada lebih dari 82.000 kejadian antara Januari hingga Agustus. Ini 80 persen lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data dari Brazilian Space Agency. Di negara bagian Rondonia saja, ada lebih dari 6.400 titik api sejauh ini.

Eidi dan Romildo menabung selama 10 tahun untuk membeli tanah yang mereka pakai untuk membangun rumah mereka. Para tetangga berkata kepada polisi, pasangan ini menolak meninggalkan lahan mereka ketika kebakaran besar, demi untuk mengawasi jalannya api.

Sebagaimana para petani di kawasan itu, mereka menggunakan penghenti api berupa celah di antara tanaman guna menghentikan atau memperlambat jalannya api.

"Penduduk melakukan apa saja agar tak kehilangan harta mereka yang sudah minim," kata detektif Celso Kondageski.

Desa pertanian tempat tinggal Eidi dan Romildo terletak di kawasan yang mengalami deforestasi, sehingga api lebih mudah menjalar.

Tanggal 13 Agustus, video yang disebarkan penduduk setempat memperlihatkan api melalap wilayah itu. Saksi mata bercerita api mendekati rumah mereka dari belakang, maka pasangan ini bisa menyelamatkan diri dari depan rumah.

Namun secara tiba-tiba mereka terpojok oleh api yang datang dari depan. Menurut laporan setempat, api di Machadinho D'Oeste melalap area seluas lebih dari 106 hektar. Rumah Eidi dan Romildo hancur bersama dengan dua bangunan milik mereka lainnya.

Baca juga: Hutan Amazon Terbakar, Pemerintah Brasil Tolak Dana USD22 Juta dari G7

Seorang saksi mengatakan kepada BBC bahwa karena takut terhadap denda deforestasi, penduduk setempat enggan memanggil petugas pemadam kebakaran, bahkan ketika api sudah tak terkendali.

"Api hanya berhenti ketika seluruh tanaman sudah terbakar. Kebakarannya kuat sekali, bahkan petugas pemadam kebakaran juga kewalahan mengendalikannya," kata saksi yang minta dirahasiakan namanya.

Pada tanggal 14 Agustus petugas pemadam kebakaran muncul. Mereka menemukan tubuh Eidi dan Romildo sudah gosong sekitar 100 meter dari lokasi sisa-sisa rumah mereka.

Polisi meyakini bahwa pasangan ini meninggal karena keracunan karbon monoksida. Hanya Eidi dan Romildo yang menjadi korban jiwa dalam kebakaran ini.

"Kebakaran ini adalah kejahatan lingkungan. Orang yang bertanggungjawab akan dikenai tuduhan pembunuhan," kata detektif Celso Kondageski.

"Orang yang memulai api di wilayah seperti itu harus sadar bahwa hal itu bisa menyebabkan kematian".

Anak Eidi mengatakan ia ingin keadilan. "Ini semua tak bertanggung jawab dan menyebabkan kematian dua orang. Siapapun yang melakukannya harus dihukum."

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Internasional