Pantau Flash
Bank Indonesia Yakin Ekonomi Membaik di Semester II-2020
Lion Air Hentikan Sementara Penerbangan Umrah ke Arab Saudi
3 Induk Cabor Tanda Tangan MoU Dana Pelatnas 2020
Sejumlah Pertandingan Liga Champions Asia Ditunda Akibat Virus Korona
Menlu Retno Kirim 23 Orang untuk Proses Evakuasi WNI dari Diamond Princess

Parah, Penembak Masjid Selandia Baru Penasaran Korban yang Dibunuhnya

Parah, Penembak Masjid Selandia Baru Penasaran Korban yang Dibunuhnya Brenton Tarrant saat muncul pertama kali dalam persidangan sehari setelah penembakan jamaah masjid di Christchurch pada Maret 2019. (Foto: AP/Mark Mitchell via ABC News)

Pantau.com - Pelaku penembakan jamaah masjid di Kota Christchurch Selandia Baru, Brenton Tarrant, ternyata sempat bertanya kepada polisi tentang jumlah korban yang "berhasil" dia bunuh.

Hal ini terungkap dalam laporan suratkabar The Australian di halaman depan yang diterbitkan hari Senin (9/9/2019), yang dikutip dari ABC News.

Pertanyaan yang dilontarkan Tarrant kepada petugas itu dia sampaikan tak lama setelah pria asal Australia ini menembaki jamaah masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre, menyebabkan 51 orang tewas dan mencederai 49 orang lainnya. Pada 15 Maret 2019, pria penganut ideologi supremasi kulit putih ini menyerang dua rumah ibadah umat Islam dengan menggunakan senjata otomatis dan menyiarkan aksinya itu secara langsung di akun Facebooknya.

Menurut sumber yang dikutip media tersebut, Tarrant (28 tahun) berkali-kali bertanya, "berapa banyak yang saya bunuh?" dan "berapa yang berhasil saya dapat?"

Baca juga: Hingga Kini, 10 Ribu Senjata Api Sudah Diserahkan Warga Selandia Baru

Sebelumnya Tarrant dilaporkan dalam keadaan "bingung" dan "linglung" ketika ditangkap petugas, namun ketika kondisinya pulih kembali, dia hanya tertarik dengan "jumlah korban".

Tarrant yang kini menghadapi 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan pembunuhan serta 1 dakwaan tindak terorisme, ditahan di penjara berkeamanan tinggi di Kota Auckland.

Polisi tadinya mengajukan 1 tuntutan pembunuhan yang mewakili seluruh korban namun ada kekeliruan penyebutan nama korban yang ternyata masih hidup, sehingga tuntutan itu pun diperbaiki.

Terdakwa telah membantah seluruh dakwaan.

Khusus mengenai dakwaan tindak terorisme terhadap Tarrant, itu akan menjadi kasus pertama di Selandia Baru dan sejumlah pakar hukum memperkirakan persidangannya akan berjalan rumit.

Dia telah dijadwalkan untuk disidangkan dengan seluruh dakwaan itu pada bulan Meid 2020, namun ada spekulasi jadwal ini kemungkinan bisa berubah.

Dalam persidangan pada Agustus lalu, pembela Terdakwa mengajukan pertanyaan apakah lokasi persidangan bisa dipindahkan ke Auckland. Hakim Cameron Mander akan memimpin sidang terkait lokasi persidangan ini pada tanggal 3 Oktober mendatang. Setelah menjalani pemeriksaan kondisi mental, ditemukan bahwa Tarrant siap menjalani persidangan.

"Tidak ada isu terkait dengan kesehatan terdakwa untuk menjalani sidang," kata Hakim Mander.

Baca juga: Pelaku Penembakan Brutal di Selandia Baru Brenton Tarrant Tulis Surat Viral

Kemah politik untuk wanita Muslim


Perdana Menteri Jacinda Ardern. (Foto: Christchurch City Council)

Sementara itu, Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan pihaknya siap membantu para wanita Muslim yang tertarik dengan dunia politik di Selandia Baru.

Hal itu dia sampaikan saat menghadiri konferensi Dewan Wanita Islam di Auckland pada akhir Agustus lalu.

Ditanya oleh peserta konferensi mengenai peluang bagi umat Islam untuk terlibat dalam peran kepemimpinan, PM Ardern menyatakan ingin membuat semacam kemah politik.

"Saya ingin kita bisa membuat forum dimana kita bisa menghabiskan waktu bersama, para politisi dan kaum wanita bersama mereka yang tertarik dalam peran kepemimpinan," ujarnya seperti dilaporkan media Radio New Zealand.

Menanggapi persoalan rasisme dan diskriminasi yang juga mengemuka dalam konferensi, PM Ardern mengaku pemerintah perlu memperbaiki kurikulum dan membuat tempat lebih beragam latar-belakang. "Bias yang tak disadari harus kita tangani dalam lapangan profesional termasuk mereka yang banyak berinteraksi dengan masyarakat, yaitu guru, pekerja kesehatan, dan PNS," katanya.

Seorang peserta konferensi Weaam Bassiouni menyatakan masyarakat umumnya ingin melihat ke depan setelah peristiwa serangan teror 15 Maret 2019.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: