Pantau Flash
Alex Marquez Juara Balapan Virtual MotoGP Seri Pertama
Polda Metro Jaya Pastikan Tak Ada Penutupan Jalan di DKI Jakarta
Musisi Country 90-an, Joe Diffie Meninggal Dunia Akibat Korona
Pakar Geologi: Waspadai Pergerakan Patahan Selatan Pulau Sulawesi
Kementan-Kemendag Satu Suara Soal Relaksasi Bawang Putih dan Bombai

Pengungsi Rohingya Pilih Bunuh Diri daripada Tak Dapat Hak di Myanmar

Headline
Pengungsi Rohingya Pilih Bunuh Diri daripada Tak Dapat Hak di Myanmar Perempuan-perempuan pengungsi Rohingya memegang plakat sebagai bagian dalam protes di kamp pengungsi Kutupalong untuk menandai peringatan satu tahun mereka dalam Cox\\\'s Bazar. (Foto: Reuters/Mohammad Ponir Hossai)

Pantau.com - Pengungsi Rohingya yang berada di kamp sementara di Kabupaten Cox's Bazar, Bangladesh menyatakan tidak akan pulang ke Myanmar tanpa keadilan dan hak terpenuhi. Pernyataan itu disampaikan melalui pesan video oleh banyak orang Rohingya yang dipersekusi di kamp pengungsi. 

Mereka menegaskan jika permintaan tersebut tetap tak terpenuhi maka mereka tidak akan menerima pemulangan paksa ke Negara Bagian Rakhine di Myanmar dan memilih mati di Bangladesh.

"Mereka (militer Burma) telah membunuh rakyat kami dan memperkosa saudari, anak perempuan dan ibu kami. Jika kami pulang, mereka akan melakukan perbuatan yang sama lagi. Kami takkan pergi ke sana," kata Hasina Begum (29), Senin (26/8/2019). 

Baca juga: PBB dan Otoritas Bangladesh Gelar Pertemuan Bahas Soal Rohingya

Begum menyelamatkan diri dari Kota Praja Maungdaw di Negara Bagian Rakhine setelah penindasan brutal militer pada 25 Agustus 2017. Ia kemudian berlindung di satu kamp di Bangladesh. 

Sejak peristiwa itu, lebih dari 750 ribu orang Rohingya menyelamatkan diri ke Bangladesh karena mereka menghadapi pembersihan etnik, pemusnahan suku, dan pembunuhan massal.

Kekesalan serupa disampaikan warga Rohingya lainnya. Kolsoma Begum (22) sangat emosional ketika menceritakan bayi mungilnya berada di pangkuannya dan dia mengusap air mata dengan menggunakan jilbabnya. "Kami cuma ingin keadilan buat pembunuh saudari dan ibu kami. Jika kami dipaksa pulang sekarang, kami akan memilih bunuh diri dengan menggunakan racun," ucapnya.

Beberapa lagi perempuan Rohingya dengan mengenakan burqa juga menangis saat mengenang peristiwa buruk di Myanmar dan menuntut keadilan. Mereka ingin militer dan pemerintah Myanmar bertanggungjawab atas kejahatan terhadap sebagian besar anggota masyarakat yang dipersekusi.

Mohammad Alam, yang melarikan diri dari Daerah Shilkhali di Kota Praja Maungdaw menyampaikan lima tuntutan khusus sebagai prasyarat buat pemulangan.

Baca juga: Bangladesh Bakal Pindahkan Rohingya ke Pulau Kosong yang Rentan Banjir

Tuntutan tersebut meliputi hak kewarganegaraan penuh; pemukiman kembali di tempat yang sama dengan yang mereka tinggalkan setelah penindasan Agustus 2017; keadilan buat korban perkosaan, perkosaan berkelompok, pembunuhan, pembakaran dan penindasan lain serta pengrusakan harta; pembebasan "tanpa syarat" orang Rohingya Muslim yang masih dipenjarakan "secara tidak adil" di kamp pengungsi di dalam negeri (IDP) dan penjara di Myanmar serta penggelan akhir pasukan keamanan di bawah PBB guna menghindari terulangnya penindasan oleh militer Myanmar.

Salah seorang warga Rohingya, yang tak disebutkan namanya, menyampaikan bahwa sebetulnya mereka ingin kembali ke Myanmar. Asalkan seluruh hak mereka dipenuhi. "Kami tak ingin tinggal di negara asing untuk waktu lama, tapi kami memerlukan keadilan, keselamatan dan hak asasi," katanya.

Pengungsi Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling dipersekusi di dunia, telah menghadapi ketakutan tinggi mengenai serangan sejak puluhan orang Rohingya tewas dalam kerusuhan etnik pada 2012.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati

Berita Terkait: