Perdana Menteri: Sri Lanka Bangkrut!

Headline
Sri Lanka (ilustrasi/pixabay)Sri Lanka (ilustrasi/pixabay)

Pantau.comEkonomi Sri Lanka telah “benar-benar runtuh,” kata Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe Rabu (22/6/2022) waktu setempat.

Negara itu dilanda krisis yang semakin mengerikan, sehingga membuat jutaan orang berjuang akibat kekurangan bahan bakar, listrik dan makanan.

“Ekonomi kita telah menghadapi keruntuhan total,” kata Wickremesinghe kepada Parlemen Sri Lanka.

Ia menambahkan bahwa pemerintah sedang mencari bantuan dari mitra globalnya dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menstabilkan ekonomi.

Namun, Wickremesinghe memperingatkan negara kepulauan berpenduduk 22 juta jiwa itu untuk “menghadapi situasi yang jauh lebih serius” selain kekurangan bahan bakar, listrik dan makanan.

Krisis ekonomi yang Sri Lanka alami ini menjadi yang terburuk dalam tujuh dekade. Cadangan devisanya anjlok ke rekor terendah, dengan dolar hampir habis untuk membayar impor penting, termasuk makanan, obat-obatan dan bahan bakar.

Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintah telah mengambil tindakan drastis untuk mengatasi krisis itu, termasuk menerapkan empat hari kerja seminggu bagi pekerja sektor publik untuk memberi masyarakatnya waktu untuk bercocok tanam sendiri.

Namun, langkah-langkah tersebut tidak banyak membantu meringankan perjuangan masyarakatnya.

Di beberapa kota besar, termasuk ibu kota komersial, Kolombo, ratusan orang terus mengantre selama berjam-jam untuk membeli bahan bakar. Mereka terkadang bentrok dengan polisi dan militer saat mengantre.

Para pasien di negara itu tidak dapat pergi ke rumah sakit karena kekurangan bahan bakar dan harga makanan yang melonjak.

Pasokan beras, yang merupakan makanan pokok di negara Asia Selatan, telah habis di berbagai toko dan supermarket.

Minggu ini saja, 11 orang tewas ketika sedang menunggu antrian bahan bakar, menurut pejabat polisi.

Wickremesinghe, yang menjabat beberapa hari setelah protes yang memaksa pendahulunya, Mahinda Rajapaksa untuk mengundurkan diri, tampaknya menyalahkan pemerintah sebelumnya atas situasi negara itu.

“Bukanlah tugas yang mudah untuk menghidupkan kembali sebuah negara dengan ekonomi yang benar-benar runtuh, terutama yang sangat rendah cadangan devisanya,” katanya.

“Jika langkah-langkah setidaknya telah diambil untuk memperlambat keruntuhan ekonomi di awal, kita tidak akan menghadapi situasi sulit hari ini,” lanjutnya.

Pekan lalu, menteri tenaga dan energi Sri Lanka mengatakan kepada wartawan bahwa negara itu hanya memiliki stok bahan bakar yang cukup untuk lima hari terakhir.

Sri Lanka mengandalkan negara tetangganya

Negara itu telah menerima $4 miliar (sekitar Rp59 triliun) dalam bentuk kredit dari India, tetapi Wickremesinghe mengatakan itu juga mungkin tidak cukup.

“Kami telah meminta lebih banyak bantuan pinjaman dari rekan-rekan India kami. Tetapi bahkan India tidak akan dapat terus mendukung kami dengan cara ini,” katanya.

Langkah selanjutnya, katanya, adalah mencapai kesepakatan dengan IMF.

“Ini satu-satunya pilihan kami. Kami harus mengambil jalan ini. Tujuan kami adalah mengadakan diskusi dengan IMF dan mencapai kesepakatan untuk mendapatkan fasilitas kredit tambahan,” kata Wickremesinghe.

Dia menambahkan bahwa Sri Lanka saat ini sedang dalam diskusi dengan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia dan Amerika Serikat untuk mengamankan pinjaman jangka pendek sementara sampai menerima dukungan IMF.

Sebuah tim perwakilan dari Departemen Keuangan AS akan tiba di Sri Lanka minggu depan, katanya.

Selain itu, Sri Lanka akan mencari bantuan dari China dan Jepang, dua dari “negara pemberi pinjaman utama,” tambah Wickremesinghe.

“Jika kita menerima segel persetujuan IMF, dunia akan sekali lagi mempercayai kita,” katanya.

“Ini akan membantu kami untuk mendapatkan bantuan pinjaman serta pinjaman berbunga rendah dari negara lain di dunia,” lanjutnya. (CNN)