Pantau Flash
Puluhan Tahanan di Meksiko Terinfeksi Virus Korona
Analis: COVID-19 Miliki Dampak Luar Biasa pada Keuangan Rumah Tangga
FIFA Jatuhkan Skors ke Presiden Federasi Sepakbola Haiti
Gelar Operasi Pasar, Mendag Masih Temukan Harga Komoditas Tinggi
Presiden Jokowi Tinjau Kesiapan 'The New Normal' di Stasiun MRT HI

Presiden Ekuador Tuding Assange Gunakan Kedubes untuk Pusat Mata-mata

Headline
Presiden Ekuador Tuding Assange Gunakan Kedubes untuk Pusat Mata-mata Pendiri WikiLeaks Julian Assange. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Pendiri WikiLeaks Jualian Assange berulang kali melanggar aturan suaka dan mencoba menggunakan Kedutaan Ekuador di London sebagai pusat memata-matai, kata Presiden Ekuador Lenin Moreno dikutip surat kabat Britain Guardian.

Kepolisian London telah menyeret keluar Assange keluar dari Kedutaan pada pekan lalu, setelah ia tujuh tahun tinggal di Kedutaan Ekuador, untuk menghindari ekstradisi ke Amerika Serikat terkait tuduhannya yang telah membocorkan rahasia pemerintah AS.

Hubungan Assange dengan Ekuador runtuh setelah pemerintah Ekuador menuduhnya membocorkan informasi tentang kehidupan pribadi Presiden Moreno.

Baca juga: Asyik Nih! Jadi Buronan, Assange Malah nge-Skate di Kedubes Ekuador

Namun, Moreno membantah adanya keterkaitan seperti balas dendam soal bocornya informasi keluarganya dengan ditangkapnya pendiri WikiLeaks itu.

Ia mengatakan, dirinya menyesal mengetahui bahwa Assange telah menggunakan Kedutaan untuk ikut campur dalam demokrasi negara lain.

"Ekuador adalah bangsa yang berdaulat dan menghormati pilihan politik masing-masing negara," kata Moreno kepada Guardian, seperti dikutip Reuters, Selasa (16/4/2019).

Baca juga: Julian Assange: Buronan Kelas Kakap yang Akhirnya Ditangkap

"Kita tak bisa membiarkan rumah kita untuk menjadi pusat mata-mata," tambahnya.

Meski demikian, para pendukung Assange mengatakan bahwa Ekuador telah mengkhianati Assange di atas perintah dari Washington, serta menyebutkan bahwa mengakhiri suaka Assange adalah tindakan ilegal yang ditandai dengan momen gelap untuk kebebasan.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: