Setahun Ekspor ke Indonesia lewat ‘Jalan Tikus’, Pengusaha di Timor Leste Ini Tobat

Headline
Dok. Antara

Pantau – Pengusaha di Oecusse wilayah enclave Timor Leste yang kini dikenal dengan sebutan RAOEA yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sempat memilih mengekspor sarang semut ke Indonesia melalui “jalan tikus” karena minim informasi soal ekspor legal ke Indonesia.

“Sudah lama sekali saya ekspor sarang semut ke Indonesia, tetapi karena memang sulit dapat informasi dan administrasi yang cukup jauh, sehingga saya lebih memilih kirim barang lewat jalur tikus,” kata pengusaha sarang semut asal Oecusse, Batista Oki seperti dilansir dari Antara, Selasa (28/6/2022).

Hal ini disampaikannya di sela-sela kegiatan forum bisnis dan investasi unggulan perbatasan Indonesia dan Timor Leste dengan tema Menuju Perbatasan yang Unggul memperingati 20 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Timor Leste.

Batista mengaku bahwa sudah hampir satu tahun terakhir dia melakukan hal tersebut dengan meminta bantuan seorang penghubung yang bisa memperlancar proses pengiriman sarang semut melalui jalur tikus.

Tetapi di bulan April lalu, penghubungnya tersebut ditangkap petugas keamanan saat hendak menyelundupkan kurang lebih enam karung sarang semut ke Indonesia.

Sehingga, lanjutnya, proses pengirimannya terhambat dan ia pun berusaha cari jalan dengan menghubungi seorang pengusaha di Atambua, Kabupaten Belu NTT yang juga menerima pengiriman dari Suai, Timor Leste.

“Bersyukur karena pada akhirnya pada 17 Juni lalu perdana saya ekspor sarang semut ke Indonesia melalui jalur yang legal,” tambah dia.

Ia mengaku bahwa tak paham dengan syarat atau aturan dari Timor Leste, apalagi dari Indonesia, sehingga menurut dia sosialisasi syarat dan rekomendasi-rekomendasi soal ekspor impor Indonesia-Timor Leste sehingga tidak memberatkan mereka.

Sementara itu Ketua Kadin Oecusse (RAEOA) Timor Leste, Eurico da Rosa mengaku bahwa sebenarnya daerah perbatasan tersebut mempunyai potensi yang sangat banyak yang hampir sama seperti Indonesia.

Tetapi pengusaha setempat malas untuk mengurus dan mengirimnya melalui jalur aman karena proses administrasi dan syarat-syaratnya sangat sulit.

“Sayang sekali kalau pengusaha yang ingin ekspor harus ke Dili melalui jalan darat selama 4 jam dan harus melalui wilayah Indonesia paling kurang untuk mengurus administrasi. Sehingga ini cukup membebankan para pengusaha,” tambah dia.

Sementara itu Plh. Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Atambua I Gde Senopati menilai bahwa pada dasarnya untuk syarat-syarat ekspor impor di Indonesia sudah ada dan penerapannya dilakukan secara daring.

“Kami punya aplikasinya bernama silawan, dan ada yang lainnya. Selama ini untuk pengusaha Indonesia untuk proses ekspor dan lainnya sudah melalui daring dan tatap muka sudah tidak ada lagi,” ujar dia.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Reporter
Tim Redaksi
Editor
Muhammad Rodhi