Pantau Flash
Korban Tewas Hanyut di Sungai Sempor Menjadi 8 Orang, 2 Masih Hilang
2 Korban Hanyut SMPN 1 Turi Ditemukan, 1 Masih Dalam Pencarian
2.345 Orang di China Meninggal Akibat Virus Korona
Jubir Presiden Jokowi: Evakuasi WNI dari Yokohama Segera Dilakukan
PGRI Ungkap Pentingnya Pendidikan Moral Pancasila Dihidupkan Kembali

The Power of Mother Nature Ini Telah Mengubah Deretan Sejarah Dunia

The Power of Mother Nature Ini Telah Mengubah Deretan Sejarah Dunia Bom di Nagasaki. (Foto: Universal History Archive)

Pantau.com - Mother Nature dimaknai sebagai suatu bentuk kekuatan yang berada diluar kendali atau melebihi apa yang dapat dilakukan oleh manusia.

Selain itu, bisa juga diartikan sebagai kekuatan yang mengatur jalannya kehidupan, seperti kekuatan alam contohnya hujan, angin, badai, gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya.

Mother Nature sangatlah kuat, pada kenyataannya, sejumlah peristiwa sejarah telah diubah olehnya. Berikut 5 peristiwa sejarah karena cuaca buruk:

Baca juga: 5 Sosok Ini Dicap sebagai Pengkhianat Paling Mengerikan dalam Sejarah Dunia

Invasi Napoleon Bonaparte ke Rusia


Napoleon Bonaparte. (Foto: Universal History Archive)

Kejadian besar dialami oleh Napoleon Bonaparte saat ia memutuskan untuk menginvasi Rusia pada 1812 namun mengalami kegagalan. Banyak yang mengatakan kegagalan itu diakibatkan oleh cuaca. Napoleon dengan 600 ribu pasukan dan lebih dari 200 ribu kuda menghadapi ganasnya suhu Rusia yang saat itu mencapai -20 hingga 04 derajat Celcius. 

Banyak kuda mati dalam serangan itu, dan tanpa kuda, pasukan Napoleon tidak mampu menerima bantuan senjata dan makanan. Kelaparan telah menyerang pasukannya, Napoleon meninggalkan pasukannya untuk kembali ke rumah untuk mencegah kudeta.

Invasi Hitler ke Rusia


Adolf Hitler. (Foto: Historia)

Meski Napoleon telah menyerah pada musim dingin di Rusia satu abad sebelumnya, Hitler memimpin pasukannya ke Moskow pada 22 Juni 1941, selama Perang Dunia II. Serangannya dijuluki Barbossa, yang diprediksi hanya beberapa bulan saja, di mana pasukannya akan masuk dan keluar dari Rusia sebelum bulan Oktober.

Dengan sombong, mereka meninggalkan sebagian besar perlengkapan musim dingin, dan telah membayar harga untu itu semua. "Saya terpana dengan kengerian dan menyadari bahwa mereka tidak memiliki kelopak mata," tulis wartawan Italia, Curzio Malaparte saat melihat pasukan Jerman kembali.

Baca juga: Negara Terluas di Asia Tenggara, Dipuncaki Indonesia Ditutup Singapura

Ia menuliskan cuaca dingin telah membuat ribuan tentara kehilangan anggota tubuhnya, mulai dari telinga, hidung, jari, hingga organ seksual para pasukan hilang akibat ganasnya cuaca dingin.

"Banyak yang kehilangan rambut mereka, kelopak mata mereka. Itu semua hilang oleh cuaca dingin. Dan operasi Barbossa telah menyebabkan kerugian besar untuk Jerman," tambahnya.

Bom Nagasaki


Bom di Nagasaki. (Foto: Universal History Archive)

Ketika bom Amerika lepas landar dari Pulau Tinian pada tanggal 9 Agustus 1945, Nagasaki bukanlah target utamanya, tetapi Kota Kokura, tempat persenjataan utama Jepang. Tapi, kektika pembom mendekati kota, target tertutup oleh awan padat. 

Pilot Charles W. Sweenet mengelilingi wilayah tersebut selama tiga kali sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke target sekunder misi, yakni Kota Nagasaki. Awan padat telah menyelamatkan satu kota itu, namun pada pukul 10.58 pagi, bom dijatuhkan, yang menewaskan sekitar 35.000 dan melenyapkan 44 persen kota tersebut.

Kamikaze Winds


Kaisar Jepang. (Foto: AP)

Ketika datang saatnya untuk mempertahankan sebuah kerajaan, tak ada propaganda yang lebih baik daripada mengklaim para dewa berada di sisi kerajaan. Itulah yang Kaisar Jepang lakukan pada 1274 dan 1281.

Saat itu, armada Mongol Kublai Khan gagal menaklukkan Jepang karena dua topan besar yang menghancurkan kapalnya. Saat kejadian itu berlangsung, Kaisar memanggil 'Kamikaze' --atau angin, untuk menyelamatkan Jepang.

Kaisar Hirohito kemudian menceritakan kembali angin Kamikaze selama Perang Dunia II, ketika ia meminta pilot tempurnya untuk melindungi bangsanya dari pasukan sekutu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW
Category
Internasional

Berita Terkait: