Pantau Flash
1 Orang di Iran Meninggal Dunia Setiap 7 Menit karena COVID-19
Epidemiolog: Belum Ada Laporan Transportasi Publik Jadi Klaster COVID-19
Gedung Putih Pastikan Pilpres AS Tetap Digelar 3 November 2020
Ombudsman Soal Ganjil Genap: Waspadai Klaster Transportasi Publik
BPS: Inflasi Tahunan yang Terendah Sejak Mei 2000

3 Kontroversi India di Kashmir Terkait Hari Raya Idul Adha Umat Islam

3 Kontroversi India di Kashmir Terkait Hari Raya Idul Adha Umat Islam Umat muslim di Kashmir melakukan protes. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Jika sebagian besar umat Islam menyambut hari raya Idul Adha dengan perasaan bahagia dan penuh kemerdekaan, tidak demikian bagi kaum muslim di Kashmir, India. 

Baca juga: Ini Alasan Utama Umat Hindu India Tolak Perayaan Idul Adha

Di Kashmir, Idul Adha menjadi momen yang begitu mencekam bagi warga muslim disana. Bagaimana tidak hak-hak ibadah umat Islam di Kashmir seakan dirampas begitu saja, di kawasan yang padahal mayoritas beragama muslim.

Salah satunya adalah mengenai ibadah kurban Idul Adha. Di Kashmir, umat muslim dilarang keras menjadikan sapi yang dianggap sebagai hewan suci untuk disembelih. Bahkan warga muslim Kashmir tak yakin bisa merayakan Idul Adha tahun ini atau tidak.

Berikut ini adalah kontroversi India terhadap warga muslim Kashmir terkait Idul Adha:

1. Menyembelih sapi dihukum mati

Ada aturan yang dibuat India terhadap warga muslim di Kashmir yang mana melarang menyembelih sapi sekalipun itu di momen Idul Adha. Tak main-main, bagi siapapun yang menyembelih sapi akan mendapat hukuman yang berat hingga hukuman mati.

2. Harga nyawa manusia hanya Rp 2000

Jika menyembelih sapi yang dianggap hewan suci mendapat hukuman mati, berbeda ketika seseorang membunuh umat muslim di Kashmir yang hanya mendapat denda tak lebih dari Rp 2000 saja.

Baca juga: Sejarah Idul Adha Berawal dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

3. Warga muslim ditembak hingga tewas karena diduga akan sembelih sapi

Ini bukan kali pertama pembunuhan warga muslim karena sapi terjadi di India. Menurut catatan Human Right Watch, antara Mei 2015 hingga Desember tahun lalu ada 44 orang yang tewas dalam kasus serupa.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: