Pantau Flash
Erick Thohir Ganti Dirut PT Pembangunan Perumahan
Doni Monardo Sebut Akan Ada Standarisasi Harga Tes PCR
Gempa M 7,1 Maluku Utara Akibat Subduksi Lempeng Laut Filipina
Seorang Pemain Tottenham Hotspur Positif Terinfeksi COVID-19
Pemerintah Segera Bayar Dana Kompensasi kepada PLN dan Pertamina

6 Titik Panas Terdeteksi di Lokasi Ibu Kota Baru RI Penajam Paser Utara

Headline
6 Titik Panas Terdeteksi di Lokasi Ibu Kota Baru RI Penajam Paser Utara Ilustrasi Kabupaten Penajam Paser Utara (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Sedikitnya terdeteksi enam titik panas atau "hotspot" yang berpotensi tinggi terjadi kebakaran di Kabupaten Penajam Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, sehingga masyarakat diminta mewaspadai risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Ex-Officio Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara, Tohar saat ditemui, Kamis mengatakan, berdasarkan informasi, musim kering atau kemarau akan berlangsung hingga Oktober 2019.

Hingga saat ini terdapat enam titik panas terpantau di wilayah Penajam Paser Utara berisiko terjadi kebakaran hutan dan lahan, titik panas yang terdeteksi tersebut tersebar di Kecamatan Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku.

Baca juga: Sebelum Pindahkan Ibu Kota, Karhutla di Kalimantan Jangan Dianggurin

BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat hingga Agustus 2019, terjadi 23 kasus kebakaran lahan di daerah itu dengan luasan yang terdampak mencapai 65 hektare.

Dengan demikian tindakan pencegahan atau antisipasi terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Penajam Paser Utara. tegas Tohar, sangat penting dilakukan secara serentak.

"Camat, lurah, kepala desa hingga Ketua RT diminta untuk melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat," katanya.

Tohar yang juga Sekretaris Kabupaten Penajam Paser Utara tersebut menimpali lagi, camat, lurah, kepala desa dan ketua RT menjadi garda terdepan untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya masing-masing.

Baca juga: Infografis Profil Penajam Paser Utara yang Terpilih Jadi Ibu Kota Baru

Seluruh pejabat kewilayahan mulai camat, lurah, kepala desa hingga ketua RT lanjut didiinstruksikan memberikan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai media, termasuk di kantor kewilayahan dan tempat-tempat ibadah. "Ada dua esensi yang perlu ditindaklanjuti , yakni upaya antisipasi dan tindakan penanganan bencana yang dilakukan secara bersama-sama," jelas Tohar.

Masyarakat dan perusahaan diminta ikut menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan apalagi tanpa pengawasan, sebab dampaknya cukup luas termasuk merusak ekosistem hewan di sekitar.

Setiap perusahaan diminta jangan hanya melindungi wilayahnya saja, tetapi juga harus berpartisipasi membantu melindungi masyarakat sekitar saat terjadi bencana.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: