Pantau Flash
Erick Thohir Ganti Dirut PT Pembangunan Perumahan
Doni Monardo Sebut Akan Ada Standarisasi Harga Tes PCR
Gempa M 7,1 Maluku Utara Akibat Subduksi Lempeng Laut Filipina
Seorang Pemain Tottenham Hotspur Positif Terinfeksi COVID-19
Pemerintah Segera Bayar Dana Kompensasi kepada PLN dan Pertamina

Ahli Epidemiologi: Rapid Test Tak Bisa Jadi Tolak Ukur COVID-19

Headline
Ahli Epidemiologi: Rapid Test Tak Bisa Jadi Tolak Ukur COVID-19 Ilustrasi petugas menunjukkan alat rapid test COVID-19. (Foto: Antara)

Pantau.com - Ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat Defriman Djafri Ph.D mengatakan rapid test atau tes cepat tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk memastikan seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak.

"Karena dasarnya tidak rekomendasi dari WHO. Itu harus hati-hati betul," katanya saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/4).

Ia menjelaskan, tes cepat itu lebih kepada pemeriksaan antibodi saja bukan Polymerase Chain Reaction (PCR), sehingga dikhawatirkan setelah orang melakukan rapid test dan hasilnya negatif mereka merasa sudah aman padahal belum tentu.

Baca juga: Hasil Rapid Test Jabar: 677 Positif Korona, Terbanyak di Setukpa Polri

"Itu banyak terjadi. Di Bogor ada laporan seperti itu ketika hasilnya negatif tapi pas PCR dia positif," ujarnya.

Kondisi demikian perlu dipahami pemerintah dan masyarakat luas agar tidak menjadikan tes cepat sebagai patokan seseorang terjangkit COVID-19 atau tidak. Sebab, masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum betul-betul dinyatakan negatif.

Defriman menyarankan akan lebih baik masyarakat melakukan isolasi meskipun negatif COVID-19 saat melakukan tes cepat dari pada membiarkannya berinteraksi bebas, tetapi ke depannya menjadi positif.

Baca juga: Ini Tiga Wilayah di Indonesia Paling Rentan Terhadap COVID-19

"Lebih baik dia kita isolasi dulu daripada orang yang awalnya dikatakan negatif ini tetapi ternyata kemudian positif," ujar dia.

Meskipun demikian, tes cepat tersebut tetap bisa dijadikan sebagai skrining awal, namun bukan patokan seseorang positif atau tidak terjangkit COVID-19. Bagi yang telah melakukan tes cepat harus melaksanakan tes lainnya guna memastikan kondisi.

Apalagi, standar revisi empat mengenai pengendalian infeksi orang tanpa gejala juga harus melakukan tes PCR pada hari pertama dan diikuti hari ke-14.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: