Pantau Flash
Penembakan di RM Cafe Cengkareng, 3 Orang Tewas
Jokowi Tinjau Langsung Vaksinasi COVID-19 Massal Wartawan di GBK Pagi Ini
Panglima TNI Mutasi 114 Pati, Mayjen Bakti Agus Fadjari Jabat Wakasad
Waspada, BMKG Deteksi Bibit Siklon Tropis Pemicu Hujan Ekstrem
BMKG Prediksi Hujan Ekstrem Malam Ini hingga Besok: Jabodetabek Siaga Banjir

Alat Tes Deteksi COVID-19 Buatan Indonesia Lebih Cepat dan Tidak Sakit

Headline
Alat Tes Deteksi COVID-19 Buatan Indonesia Lebih Cepat dan Tidak Sakit Menristek Bambang Brodjonegoro (kanan) menyerahkan alat deteksi dini COVID-19, GeNose C19 kepada Menko PMK Muhadjir Effendy (kiri). (Foto: Antara)

Pantau.com - Mendeteksi dini COVID-19 dengan tes cepat merupakan bagian penting dalam memutus mata rantai penularan dan penyebaran COVID-19.

Namun, orang sering mengeluhkan rasa sakit ketika menjalani tes COVID-19 karena harus mengikuti tes usap dengan mengambil sampel dari nasofaring, atau mengambil sampel darah.

Untuk itu, ada alternatif alat penapisan dan diagnostik COVID-19 tanpa harus memasukkan alat ke dalam tubuh. Alat itu adalah GeNose C19, yang hanya menggunakan embusan napas.

Baca juga: Saleh Daulay: Kewajiban Rapid Antigen Jangan Persulit Masyarakat

Gadjah Mada Electronic Nose COVID-19 (GeNose C19) menjadi salah satu inovasi kebanggaan Indonesia dan merupakan inovasi pertama di Indonesia untuk pendeteksian COVID-19 melalui embusan napas.

GeNose C19 terhubung dengan sistem cloud computing melalui aplikasi berbasis kecerdasan artifisial untuk mendapatkan hasil diagnosis secara real time.

"Bagi kami GeNose C19 adalah suatu inovasi untuk bisa mengurangi ketergantungan terhadap alat screening yang berasal dari luar negeri. GeNose C19 menjadi suatu terobosan karena sifat screening-nya yang tidak berbasis antibodi maupun antigen, melainkan berbasis embusan napas," kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro dalam Webinar "GeNose C19 - Inovasi Teknologi Alat Kesehatan Anak Bangsa" di Jakarta, Jumat (15/1/2021).

Dalam praktik kerja GeNose C19, seseorang cukup mengembuskan napas ke dalam alat penampung atau pengumpul napas. Kemudian, embusan napas itu akan dianalisis dengan kecerdasan buatan. Hanya menunggu beberapa menit, hasilnya langsung keluar yang menunjukkan seseorang positif atau negatif COVID-19.

Hasil dapat diketahui tidak lebih dari lima menit. Data analisis GeNose C19 juga telah terhubung ke sistem cloud untuk diakses dalam jaringan.

Tes berbasis embusan napas itu tentunya menawarkan kenyamanan kepada para penggunanya karena tidak perlu merasa sakit, seperti saat menjalani tes cepat berbasis antibodi dan antigen.

Pada tes cepat berbasis antibodi, seseorang "ditusuk" untuk mengambil sampel darah, sedangkan pada tes cepat berbasis antigen, seseorang harus "dicolok" hidungnya untuk mengambil spesimen di nasofaring.

Sementara GeNose C19 berbeda dengan alat tes cepat lain karena tidak perlu mengambil sampel darah atau melakukan proses usap, melainkan melalui embusan napas.

"Saya harapkan GeNose C19 ini tidak hanya sekadar alat, tapi kita buat sistem ini sangat membantu proses 3T (testing, tracing, treatment) supaya kehidupan dengan memperhatikan protokol kesehatan bisa berjalan dengan baik," ujar Menristek Bambang.

GeNose C19, yang dikembangkan oleh tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, memiliki tingkat akurasi yang tinggi, yakni sensitivitas 92 persen dan spesivitas 95 persen.

"Kita ingin alat ini bisa mendorong Indonesia bisa menangani pandemi COVID-19 dengan lebih baik lagi," ujarnya.

GeNose C19 dikembangkan oleh UGM dan mendapat dukungan dari Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Intelijen Negara, TNI Angkatan Darat, Kepolisian RI, Kementerian Kesehatan RI, dan pihak swasta, antara lain PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri, PT Hikari Solusindo Sukses, PT Stechoq Robotika Indonesia, PT Nanosense Instrument Indonesia, dan PT Swayasa Prakarsa.

Pengembangan GeNose C19 menjadi bukti nyata implementasi triple helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan industri.

"Selain merupakan bagian dari Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 di Kemenristek/BRIN, GeNose C19 menjadi bukti nyata implementasi triple helix yang berjalan cukup mulus. Triple helix merupakan bentuk sinergi dan kolaborasi dari tiga pihak yang mendorong penelitian menjadi inovasi, yaitu pemerintah, peneliti, dan industri. Selain itu, hal yang paling penting adalah terwujudnya kolaborasi antarbidang ilmu yang tentunya akan sangat membantu upaya penanganan COVID-19,” tutur Menristek Bambang.

Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengapresiasi inovasi tersebut dan mengatakan GeNose dapat menjadi upaya untuk meningkatkan upaya screening atau penapisan COVID-19 yang dapat mendukung penghematan biaya kesehatan.

"Apabila kita bisa melakukan screening lebih dini kita bisa menemukan kasus lebih dini sehingga kita bisa mengendalikan kasus dan fatality rate-nya," ujarnya.

Dia berharap kemampuan GeNose C19 dalam mendeteksi COVID-19 semakin ditingkatkan ke depannya.

"Dikarenakan GeNose C19 ini adalah kecerdasan artifisial kami harapkan dapat terus dimodifikasi sehingga ketajaman dalam melakukan screening menjadi lebih sensitif," tuturnya.

GeNose C19, yang dibanderol dengan harga Rp62 juta per unitnya, diharapkan menjadi solusi screening yang cepat, murah dan akurat.

Dengan 100 unit batch pertama yang akan dilepas, Ketua Tim Peneliti GeNose dari UGM Kuwat Triyana berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau totalnya 12 ribu orang sehari. Angka 120 tes per alat itu dari estimasi bahwa setiap tes membutuhkan tiga menit, termasuk pengambilan napas.

"Sehingga, satu jam dapat mengetes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama enam jam," ujar Kuwat.

Nantinya biaya tes dengan GeNose C19 bisa cukup murah hanya sekitar Rp15 ribu sampai Rp25 ribu.

Mengenai mekanisme kerja GeNose, Kuwat menuturkan ketika bakteri atau virus menginfeksi bagian tubuh manusia, maka akan menghasilkan senyawa volatile yang spesifik, atau yang disebut volatile organic compound (VOC).

Senyawa volatil dari embusan napas yang dikeluarkan spesifik penderita COVID-19 akan dideteksi oleh larik sensor udara yang ada pada GeNose C19. Kemudian, akan terjadi respons yang membentuk pola khas.

Pola khas itu akan dianalisis berbasis kecerdasan buatan dengan machine learning atau deep learning. Dari hasil analisis itu, akan diketahui seseorang terkena COVID-91 atau tidak.

Perlu dipahami yang dideteksi bukan virus corona penyebab COVID-19, melainkan partikel atau senyawa yang memang secara spesifik akan berbeda jika dikeluarkan oleh orang yang terinfeksi COVID-19.

Untuk mendapatkan embusan napas itu, setiap orang menempelkan mulut ke katup dan meniup alat penampung embusan napas. Setelah itu alat penampung embusan napas itu langsung dikoneksikan ke perangkat GeNose C19 untuk dianalisis.

"Sistem bisa menganalisis ribuan sampel sekaligus," kata Kuwat.

Kuwat mengatakan ada tiga bagian utama terkait mekanisme kerja GeNose C19, yakni larik sensor yang akan merespons terhadap senyawa dalam embusan napas, perangkat elektronik yang didesain khusus untuk membawa senyawa dari embusan napas ke sensor, dan software untuk menganalisis dalam mengungkap keberadaan COVID-19.

Baca juga: Penumpang Kereta Jarak Jauh Wajib Rapid Test Antigen Mulai Besok

Peningkatan performa kecerdasan buatan dengan penambahan windows analysis dapat meningkatkan akurasi pembacaan ekstraksi ciri respons sensor.

Kuwat menuturkan saat ini kemampuan produksi dengan mitra yang bekerja sama dengan UGM untuk memproduksi alat GeNose diperkirakan 50 ribu unit hingga 100.000 unit per bulan.

Pada Februari 2021 ditargetkan sebanyak 3.000 unit GeNose C19 akan dirilis.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: