Anggota DPR RI F-PKB ini Kritik Kominfo Gegara Anaknya Gak Bisa Main Dota

Headline
Anggota DPR RI Fraksi PKB Luluk Hamidah (foto: Tangkapan layar)

Pantau – Anggota DPR Fraksi PKB Luluk Hamidah mengatakan dirinya sempat diprotes anaknya yang tidak bisa mengakses game Dota, lantaran diblokir oleh Kominfo. Ia mengkritik regulasi Kominfo yang menurutnya diterapkan tanpa sosialisasi.

Seperti yang dilihat tim Pantau.com pada unggahan Twitter Luluk @lulukhamidah, Selasa (2/8/2022). Ia diminta anaknya untuk menghubungi Kominfo karena tidak bisa main Dota.

“Pagi-pagi anak laki aku minta agar telepon @kemkominfo karena enggak lagi bisa main DOTA. Pas asik main eh tiba-tiba terguling dan gagal login. Anakku kenal Dota 1 sejak SD, lalu serius ke Dota 2. Solusi terbaik gimana ya bos setelah regulasi ini?” kata Luluk, Selasa (2/8/2022).

Luluk menjelaskan maksud dari cuitannya. Menurutnya, pemerintah memang memiliki wewenang namun gagal mengkomunikasikan wewenangnya.

“Pemerintah dalam hal ini, Kominfo gagal melakukan komunikasi secara efektif. Terkait dengan pemblokiran akses beberapa platform game, seperto Steam, Dota hingga CS:Go,” ucapnya.

Menurutnya masyarakat kecewa dan menganggap Kominfo sebagai lembaga tukang blokir. Ia menilai seharusnya Kominfo membuka ruang dialog terlebih dahulu sebelum menetapkan kebijakan.

“Kemenkominfo dianggap lembaga tukang blokir. Sementara aspek manfaat dan kepentingan yang harus dijaga, justru tidak terinformasikan secara baik. Ini kan ironis dengan nama kementeriannya,” tuturnya.

“Saran saya, sediakan ruang dialog dan informasi yang lebih meaningful, mencerdaskan, sehingga masyarakat khususnya pengguna game tersebut dapat memahami tujuan baik dibalik pemblokiran platform tersebut. Yang terjadi sekarang kan terkesan ujug-ujug, spontan dan mengagetkan,” sambungnya.

Sebelumnya Kominfo mulai melakukan pemblokiran sejumlah situs. Pemblokiran itu lantaran beragam situs atau aplikasi itu tidak memenuhi kewajiban sebagai penyelenggara sistem elektronik (PSE) mendaftarkan diri ke Kominfo.

Tim Pantau
Editor
Renalya Arinda