Pantau Flash
DPR RI Setujui Perppu Pilkada Menjadi Undang-Undang
Putar Ekonomi Dalam Negeri, Pertamina Gandeng 3 BUMN
OMG! Utang Garuda Indonesia Capai Rp31,9 Triliun
Peserta UTBK SBMPTN Bersuhu Tubuh di Atas 37,5 Derajat Tak Boleh Ikut Ujian
Presiden Jokowi Optimistis Defisit Anggaran Dapat Menyusut di 2023

Bertambah 100 Sampai 120 Perbulan, Kasus HIV/AIDS di Bali bak Gunung Es

Bertambah 100 Sampai 120 Perbulan, Kasus HIV/AIDS di Bali bak Gunung Es Ilustrasi HIV/Aids. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Kepala Dinas Kesehatan Bali mengungkapkan, temuan kasus HIV/AIDS di Bali bertambah 100 sampai 120 setiap bulan dengan kebanyakan kasus terjadi pada warga berusia 15 sampai 59 tahun.

Namun Kepala Dinas Kesehatan Bali, Ketut Suarjaya, mengingatkan bahwa kasus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, yang tampak di permukaan hanya merupakan bagian kecil dari seluruh bagiannya.

"Perlu diingat dan disadari, dari estimasi jumlah kasus yang ada secara epidemiologi sekitar 31 ribu di Bali dan kasus ini seperti fenomena gunung es di mana ada yang muncul di permukaan yang kelihatan baru 22.034 sehingga ada 9.000 kasus yang masih ada di bawah permukaan," katanya saat dijumpai di Denpasar, Senin (2/12/2019).

Baca juga: Awas! Tercatat Tren HIV pada IRT dan Pelaku Lekaki Penyuka Sesama Meningkat

Ia menjelaskan, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menemukan 9.000 kasus yang belum terdeteksi, antara lain dengan melakukan pemeriksaan pada orang-orang yang berisiko tertular AIDS.

Kalau seluruh kasus bisa ditemukan dan semua yang terinfeksi bisa menjalani pengobatan, maka kualitas hidup orang yang terinfeksi bisa ditingkatkan dan penularan HIV/AIDS bisa ditekan.

"Semakin cepat bisa dapatkan semakin cepat diobati dengan ARV, karena ARV tersedia di seluruh Bali dan Indonesia. Kalau rutin minum obat, kualitas hidupnya juga semakin baik," ungkapnya.

Ia mengatakan, pemerintah menyediakan obat anti-retroviral (ARV) sesuai dengan jumlah kasus HIV/AIDS di puskesmas terpilih, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan yang mengajukan diri menyediakan pelayanan itu.


Pemerintah juga menyediakan pelayanan tes HIV sukarela hingga di tingkat puskesmas. Secara kumulatif dari tahun 1987 sampai November 2019 ada 22.034 kasus HIV/AIDS di Bali, 1.111 di antaranya berasal dari luar Bali.

Di Bali, kasus HIV/AIDS paling banyak ditemukan di Kota Denpasar (8.287) disusul Kabupaten Badung (3.706), Buleleng (3.150), Gianyar (1.603), Tabanan (1.305), Jembrana (1.128), Karangasem (834), Bangli (460), dan Klungkung (446).

Menurut Ketut Suarjaya, hampir 80 persen kasus HIV/AIDS di Bali terjadi pada warga berusia 15 sampai 59 tahun yang secara seksual aktif.

Ia menekankan pentingnya pemeriksaan HIV sukarela dalam pencegahan dan penanganan kasus dan menganjurkan pasangan yang berisiko terinfeksi HIV mengikutinya. HIV utamanya menular melalui kontak cairan tubuh dan penggunaan jarum suntik secara berganti-ganti.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: