Bharada E Ngaku cuma Dia yang Tembak Brigadir J karena Takut Dibunuh Irjen Sambo

Headline
Ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E (kiri) berjalan memasuki ruangan saat tiba di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (26/7/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/hp.Ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E (kiri) berjalan memasuki ruangan saat tiba di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (26/7/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/hp.

Pantau – Bharada Richard Eliezer alias Bharada E sempat mengaku sebagai penembak tunggal Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Ia kemudian mengaku diperintah atasannya, Irjen Ferdy Sambo, setelah diberitahu ancaman hukuman dan risiko lainnya yang bakal diterima akibat pengakuan awalnya itu.

“Selepas magrib, sekitar pukul 18.30 WIB, seorang petinggi Mabes Polri mengajak Richard berbicara dari hati ke hati. Ia menjelaskan bahwa Richard terancam hukuman setidaknya 15 tahun penjara jika tak menyampaikan kejadian sebenarnya di rumah dinas Ferdy Sambo,” demikian laporan Majalah Tempo, dikutip Senin (16/8/2022).

“Petinggi ini mengingatkan karier Richard di kepolisian dan orang tuanya jika ia masuk penjara,” imbuhnya.

Setelah itu, Bharada E disebut mulai goyah. Usai terdiam, ia meminta didatangkan perwira tinggi paling senior di Mabes Polri. Ia juga meminta izin menelepon orang tuanya. Selesai bertelepon, kepada seorang jenderal yang menemuinya di ruangan khusus, Richard buka suara.

“Kepada pemeriksa itu, Richard mengatakan ia mendengar suara tembakan di lantai bawah ketika tengah berada di lantai dua. Saat menuruni tangga, ia melihat Ferdy Sambo sedang memegang pistol di samping tubuh Brigadir Yosua yang terkapar bersimbah darah. Saat melihatnya, ujar Richard kepada pemeriksa itu, Ferdy Sambo memintanya mengaku sebagai pelaku penembakan Yosua,” tutur Majalah Tempo.

Pengakuan Bharada E ini kemudian disampaikan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sigit memanggil Bharada E ke ruangannya, karena ia ingin mendengar secara langsung pengakuan Richard tersebut.

“Listyo ingin mendengar sendiri pengakuan Richard. ‘Kenapa di pemeriksaan pertama kamu menyampaikan bahwa kamu yang menembak?’ Listyo bertanya,” beber Majalah Tempo.

“Richard mengaku takut kepada Ferdy dan takut terjadi hal yang tak diinginkan karena ia berencana segera menikah,” lanjutnya.

Bharada E lalu menuangkan kronologi pembunuhan Brigadir J ke sebuah tulisan. Ia menulis hingga enam jam. Setelahnya kronologi itu dituangkan ke berita acara pemeriksaan (BAP) dan disumpah.

Dalam pemeriksaan lanjutan, ia mengaku menembak Brigadir J atas perintah Irjen Sambo.

“Dia juga menyampaikan bahwa FS ikut menembak,” kata Kapolri Sigit, mengutip Majalah Tempo.

Kini Sambo telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana Brigadir J. Ia juga disebut menyusun skenario seolah-olah terjadi tembak-menembak antara Bharada E dengan Brigadir J, di rumah dinasnya.

Selain Sambo, Bharada E, Bripka Ricky Rizal dan Kuwat Maruf juga ditetapkan sebagai tersangka. Sambo terancam hukuman mati.

“Dari hasil pemeriksaan menurut peran, penyidik menetapkan pasal 340 subsider pasal 338, juncto 55, juncto 56 KUHP,” ujar Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

“Ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun,” imbuh Agus. [Laporan Kiki]

Tim Pantau
Editor
Tim Pantau.com