Pantau Flash
4,99 Juta Warga Telah Terima BLT Dana Desa
Polda Metro Tangkap Tersangka Penyebar Video Asusila Mirip Syahrini
Menristek Sebut Pembuatan Vaksin COVID-19 Masih Tahap Awal
Gantikan Helmy Yahya, Iman Brotoseno Resmi Dilantik Sebagai Dirut TVRI
Menuju 'New Normal', Magelang Akan Perketat Protokol Kesehatan

BMKG: Kami Sedang Siapkan Alat Pendeteksi Tsunami 2 Menit Pasca Gempa

BMKG: Kami Sedang Siapkan Alat Pendeteksi Tsunami 2 Menit Pasca Gempa Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati (Foto: Antara/Indriani)

Pantau.com - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati mengatakan pihaknya sedang menyiapkan peringatan dini untuk tsunami lebih cepat dari sebelumnya.

"Kami sedang menyiapkan sistem peringatan dini yang mampu memberikan peringatan dua menit setelah kejadian. Saat ini, kami masih berupaya," ujar Dwikorita dalam seminar di Universitas Terbuka di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (3/10/2019).

Pihaknya masih berupaya menemukan algoritma baru untuk mendeteksi tsunami lebih cepat setelah gempa ataupun longsor yang ada di dasar laut. Pihaknya melibatkan sejumlah pakar matematika, fisika hingga geofisika. Saat ini, pihaknya baru bisa mendeteksi peringatan dini untuk tsunami yang disebabkan gempa tektonik dan belum bisa mendeteksi gempa yang disebabkan oleh longsor bawah laut maupun erupsi gunung api.

Baca juga: BMKG: Jawa, Bali, NTB, dan NTT Alami Hari Tanpa Hujan hingga November

Peringatan dini yang ada mengantisipasi tsunami akibat gempa tektonik, sama halnya yang terjadi di Aceh pada 2014. "Kita belum mendeteksi dan memberikan peringatan dini untuk tsunami yang tidak disebabkan gempa tektonik," kata Dwikorita.

Dia memberi contoh gempa Palu yang kemudian diikuti dengan tsunami dan likuefaksi, seharusnya tidak terjadi tsunami karena patahan aktif dan hal itu belum pernah terjadi pada tsunami sebelumnya. Namun yang terjadi adalah longsor di bawah laut yang menyebabkan terjadinya tsunami. Begitu juga tsunami Selat Sunda, yang disebabkan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dwikorita menjelaskan biasanya peringatan dini yang ada bekerja maksimal 20 menit setelah gempa tektonik. Paling cepat peringatan dini baru bisa dideteksi lima menit setelah gempa. Padahal tsunami datang dua menit setelah gempa. Dengan kata lain, sistem yang ada saat ini belum bisa memberikan peringatan dini secara tepat. "Kami sedang berupaya agar bisa membuat sistem peringatan dini yang lebih cepat," katanya.

Untuk sementara, pihaknya menyarankan agar masyarakat yang berada di sekitar pantai segera mencari tempat yang lebih tinggi dalam hitungan ke-10 setelah gempa. "Mari kita bersama-sama membangun sistem peringatan dini yang lebih baik dan lebih cepatt," ajak Dwikorita.

Baca juga: Jumlah Korban Meninggal Gempa Ambon Bertambah Jadi 36 Orang

Rektor Universitas Terbuka Prof Ojat Darojat mengatakan sains dan teknologi sangat berperan dalam kesiapsiagaan bencana. "Apalagi Indonesia secara geografis rawan gempa bumi dan bencana alam lainnya," kata Ojat.

Ojat menambahkan para pakar maupun ilmuwan perlu bahu-membahu dalam mewujudkan sistem peringatan dini yang lebih baik lagi.

"Hal itu dikarenakan penanggulangan bencana merupakan bagian integral pembangunan bangsa," kata Ojat.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: