BPIP Siapkan Materi Referensi Lambang Garuda Pancasila

Direktorat Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP melakukan diskusi kelompok terpumpun (DKT) penyusunan materi lambang Garuda Pancasila di Yogyakarta, Jumat (05/08).Direktorat Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP melakukan diskusi kelompok terpumpun (DKT) penyusunan materi lambang Garuda Pancasila di Yogyakarta, Jumat (05/08).

Pantau – Dalam upaya memberikan materi yang dapat menjadi referensi pemahamanan tentang lambang negara, Direktorat Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP melakukan diskusi kelompok terpumpun (DKT) penyusunan materi lambang Garuda Pancasila di Yogyakarta, Jumat (05/08).

Kegiatan menghadirkan narasumber Nanang Rahmad Hidayat, penulis buku “Mencari Telor Garuda” sekaligus pemilik serta pengelola Rumah Garuda Yogyakarta, dan Aan Ratmanto, Dosen Sejarah UIN Raden Mas Surakarta dan Universitas Udayana Bali.

Direktur Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila, Aris Heru Utomo, menyampaikan bahwa tujuan penyusunan materi lambang Garuda Pancasila adalah untuk menyiapkan referensi mengenai lambang Garuda Pancasila agar masyarakat paham akan sejarah, makna dan penggunaannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bahasa, Lambang Negara dan Bendera.

“Tidak sedikit warga negara Indonesia, termasuk generasi muda yang belum mengenal lambang Garuda Pancasila, baik sejarah, maknanya dan penggunaanya. Akibatnya, kerap terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pemakaiannya yang disebabkan ketidaktahuan mereka.,” ujar Aris.

“Padahal, memahami dan menggunakan lambang negara dengan baik dan benar merupakan bagian dari bentuk cinta Tanah Air dan dukungan nyata kepada NKRI,” tambah Aris.

Karena itu, melalui buku Lambang Garuda Pancasila, kata Aris, BPIP berharap dapat meluruskan hal-hal yang kurang sesuai mengenai lambang negara tersebut.

“BPIP ingin menempatkan lambang Garuda Pancasila sesuai proporsinya,” ujarnya.

Sementara itu, Nanang Rahmad Hidayat menyatakan bahwa sudah 72 tahun usia lambang negara, sejak diresmikan pada 11 Februari tahun 1950, namun belum ada referensi resmi dari pemerintah mengenai lambang negara Garuda Pancasila, selain pengaturan dalam UU No. 24 tahun 2009 tentang Bahasa, Lambang Negara dan Bendera”.

“Akibatnya, kerap masih ditemui perbedaan dalam penggunaan lambang Garuda Pancasila dalam beberapa dokumen resmi, seperti dalam buku nikah ataupun mata uang,” ujar Nanang.

Vector gambar tidak sama atau ada lambang Garuda Pancasila yang jarinya lima,” ujar Nanang memberikan beberapa contoh.

“Belum lagi penggunaan lambang Garuda Pancasila di cukai rokok, misalnya. Itu kan sama saja dengan melecehkan lambang negara. Masa lambang negara dibakar,” tambah Nanang.

Adapun Aan Ratmanto menyampaikan sejumlah fakta sejarah yang menunjukkan bahwa penciptaan lambang Garuda Pancasila merupakan karya kolektif suatu tim yang disebut Panitia Lencana Negara. Kurang tepat jika lambang Garuda Pancasila diakui sebagai karya individu.

“Karena itu, melalui materi lambang Garuda Pancasila yang disusun BPIP diharapkan memberikan gambaran yang sesungguhnya antara lain mengenai tokoh-tokoh yang berperan dalam menciptakan lambang Garuda Pancasila,” ujar Aan.

Untuk melengkapi penyusunan materi lambang Garuda Pancasila secara lengkap dan komprehensif, disepakati akan dilakukan pembahasan lanjutan dengan antara lain dengan melibatkan pakar-pakar sejarah dan elemen masyarakat terkait.

Tim Pantau
Editor
Aries Setiawan