Pantau Flash
Mendag: Neraca Perdagangan RI Surplus dan Tertinggi
Jawa Tengah Bagian Selatan Masih Berpotensi Diguyur Hujan Ekstrem
Formula 1 Bakal Mentas di Sirkuit Kota Jeddah Arab Saudi untuk Pertama Kali
Perancis Tingkat Keamanan ke Level Tertinggi Pasca Penusukan di Gereja
Garuda Akan Garap Penerbangan Kargo untuk Ekspor Produk Laut

Cari Veronica Koman, Wakapolda Jatim Sambangi Konjen Australia di Surabaya

Headline
Cari Veronica Koman, Wakapolda Jatim Sambangi Konjen Australia di Surabaya Aktivis Papua Victor Yeimo bersama pengacara Veronica Koman di gedung PBB di Jenewa. (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Wakapolda Jawa Timur (Jatim) Brigjen Pol Toni Harmanto mendatangi Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Surabaya, Rabu (11/5/2019). Kedatangannya untuk memastikan keberadaan tersangka provokasi insiden penyerangan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Veronica Koman, di negara kanguru tersebut.

“Kami ini datang untuk memastikan keberadaan yang bersangkutan di negara mana. Di wilayah mana. Sebab, suaminya warga negara Australia,” ujar Toni. 

Baca juga: Kerap Mangkir dari Pemeriksaan, Polda Jatim Peringatkan Veronica Koman

Ia menambahkan, kedatangannya ke Konjen Australia hanyalah untuk menyampaikan data terkait Veronica Koman. Selain itu, pihaknya juga berharap ada kerja sama dengan pihak Australia.

“Prinsipnya, mereka (Australia) tidak akan turut campur dalam urusan hukum negara kita. Namun, mereka siap membantu,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, Polda Jatim juga akan menerbitkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap Veronica. Langkah ini diambil karena Veronica belum juga mengindahkan surat pemanggilan polisi. 

“Kami sudah dua kali melayangkan surat panggilan. Tetapi tidak diindahkan. Maka segara akan diterbitkan DPO. Berikutnya, kami akan layangkan surat-menyurat untuk berkomunikasi dengan kantor Kedutaan Besar Indonesia yang ada di wilayah di mana tersangka berada,” ucapnya.

Baca juga: Polda Jatim Dalami Transaksi Keuangan Veronica Koman

Seperti diberitakan sebelumnya, Polda Jatim menetapkan Veronica Koman sebagai tersangka dalam kasus pengepungan asrama mahasiswa Papua Jalan Kalasan. Penetapan ini dilakukan menyusul penyebaran berita bohong dan provokatif di media sosial. 

Pada kasus ini Veronica dijerat dengan pasal berlapis, yakni Undang-Undang (UU) tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan KUHP Pasal 160 tentang larangan perbuatan menghasut di muka umum. 

Kemudian, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 14 dan 16 tentang Peraturan Hukum Pidana, yang mengatur tentang penyebaran berita bohong yang dengan sengaja untuk membuat keonaran dan UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis.

Tim Pantau
Sumber Berita
Tribratanews
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: