Pantau Flash
Polisi Jerat 'Gilang Bungkus' dengan Pasal Perbuatan Tidak Menyenangkan
Juventus Resmi Pecat Maurizio Sarri
TikTok Ancam Tempuh Jalur Hukum Usai Diblokir Donald Trump
Pemerintah Beri Santunan Rp300 Juta untuk Tenaga Medis Gugur Tangani Korona
Update COVID-19: Bertambah 2.277 Kasus, Total Sudah 123.503 Positif

Dewan Pers: Banyak Media Abnormal saat Pilpres, Cenderung Memihak

Headline
Dewan Pers: Banyak Media Abnormal saat Pilpres, Cenderung Memihak Agus Sudibyo (kanan) saat diskusi (Foto: Antara/Kuntum Khaira Riswan)

Pantau.com - Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo menyebut sejumlah wartawan dan media sempat tidak normal pada masa Pemilu 2019.

“Kalau dalam situasi normal media itu netral dan independen, media menulis dengan proprosional berdasarkan kode etik jurnalistik. Kemarin itu kan abnormal,” ujar Agus Sudibyo usai diskusi bersama insan media di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Menurutnya, pada masa kampanye hingga putusan MK terkait perselisihan hasil pemilu khususnya pilpres, banyak media dan wartawan yang cenderung berpihak bahkan turut menyebarkan hoaks dan informasi yang spekulatif tanpa verifikasi dan konfirmasi.

“Banyak media berpihak baik pada pihak sana maupun pihak sini. Itu sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ditoleransi, tapi sudah terjadi,” kata Agus.

Baca juga: Dewan Pers Nilai Indonesia Butuh Prabowo dan Gerindra sebagai Oposisi

Oleh karena itu, lanjut dia, pascapemilu dan keadaan yang mulai aman, media harus kembali pada fungsi sebenarnya yakni menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan.

“Sekarang pemilu sudah selesai, dua kubu sudah melakukan rekonsiliasi, di situlah media harus kembali pada khitahnya sebagai kekuatan keempat demokrasi,” lanjutnya.

Baca juga: Dewan Pers Beri Kesimpulan Sementara Soal Artikel Tempo "Tim Mawar"

Agus juga mengharapkan media tidak berfokus mengkritik pemerintah namun juga penguasa lainnya di DPR hingga partai politik.

“Media harus menjalankan fungsi kritik pada kekuasaan, tapi kekuasaannya diperluas bukan hanya pemerintah tapi juga pada DPR dan partai politik yang semuanya simbol kekuasaan,” katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: