Pantau Flash
Menkes Terawan: 9 WNI Positif Korona di Diamond Princess Tidak Sakit Berat
Kompetisi J-League Ditunda Akibat Virus Korona
Pemerintah Berikan Diskon Tarif Pesawat Akibat Serangan Korona
Komisi III DPR RI Desak MenkumHAM Yasonna Laoly Evaluasi Pegawai
Mentan Syahrul Yasin Limpo Dorong Mahasiswa IPB Jadi Petani Modern

Dikenal Kramat, Jumlah Pendaki Gunung Lawu Justru Melonjak di Malam 1 Suro

Headline
Dikenal Kramat, Jumlah Pendaki Gunung Lawu Justru Melonjak di Malam 1 Suro Sejumlah pendaki bersiap melakukan pendakian ke Gunung Lawu melalui Pos Cemoro Sewu, Plaosan, Kabupaten Magetan, Jatim, pada malam 1 "Suro" atau malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1441 Hijriah, Sabtu (31/8). (Foto: Antara/Istimewa)

Pantau.com -  Enggak ada takutnya nih pendaki. Malam 1 Suro yang jatuh malam ini rupanya malah dijadikan mereka untuk momen naik gunung. Padahal 1 Suro itu dikenal dengan malam kramat. 

Jumlah pendaki Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur meningkat signifikan pada malam 1 "Suro" atau malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1441 Hijriah yang mencapai ratusan orang.

Data Pos Pendakian Cemoro Sewu mencatat jumlah pendakian pada akhir pekan biasa hanya berkisar 50 hingga 100 orang, sedangkan pada malam "Suro" bisa mencapai 500 orang lebih. Bahkan pada malam 1 "Suro" tahun lalu tercatat 2.500 orang mendaki Gunung Lawu.

Baca juga: SBY: 2019 Tahun Terberat Buat Saya dan Keluarga

"Momentum malam 1 'Suro' memang banyak sekali pendaki yang naik ke Gunung Lawu," ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Fery Yoga Saputra kepada wartawan di Magetan, Sabtu (31/8/2019).

Sejak Sabtu siang, katanya, kawasan Cemoro Sewu sudah ramai didatangi para pendaki yang hendak naik ke puncak gunung di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.

Para pendaki tersebut memiliki banyak tujuan. Ada yang hanya ingin menikmati liburan dengan mendaki gunung ataupun melakukan ritual "Suroan" di puncak Gunung Lawu.

Pihak BPBD mengimbau para pendaki Gunung Lawu tidak membuat perapian di tempat-tempat yang rawan kebakaran hutan. Hal itu karena kondisi saat ini sedang kering akibat musim kemarau sehingga rawan kebakaran hutan dan lahan.

"Biasanya para pendaki yang melakukan ritual 'Suroan' itu banyak yang menyalakan perapian untuk dupa. Diimbau agar itu (perapian, red.) diperhatikan. Jika telah selesai melakukan ritual, hendaknya dipastikan jika perapian telah padam," kata dia.

Baca juga: Gunung Merapi Keluarkan Guguran Larva Pijar Sejauh 700 Meter

Salah satu pendaki asal Jakarta, Sugito, mengaku mendaki Gunung Lawu bertepatan dengan malam 1 "Suro" untuk ritual. Hal tersebut sering ia lakukan saat peristiwa serupa.

"Memang sengaja naik ke Gunung Lawu untuk ritual di malam 1 'Suro'. Di atas nanti kegiatannya berdoa memohon perlindungan dan keselamatan pada Allah SWT," kata dia.

Sejumlah lokasi di Gunung Lawu yang dikeramatkan dan biasa digunakan ritual, di antaranya Pos IV dan Pos V, seperti Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Hargo Dumilah, dan Hargo Dalem.

Mengingat banyaknya pendaki yang naik ke Gunung Lawu pada malam 1 "Suro", pihak BPBD Magetan mendirikan pos pemantauan di sekitar pintu masuk jalur pendakian Cemoro Sewu.

Pendirian pos pantau tersebut untuk mengantisipasi terjadi kondisi kedaruratan dan mempermudah koordinasi antarpetugas jika terjadi sesuatu.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Penulis
Nani Suherni
Category
Nasional