Dokter Paru: Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Terkena COVID-19

Kabut asap di Kalimantan (Foto: Antara)Kabut asap di Kalimantan (Foto: Antara)

Pantau.com – Dokter Paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Andika Chandra Putra mengatakan potensi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat mempermudah risiko seseorang terkena COVID-19.

“Kalau memperbanyak COVID-19 mungkin tidak. Tapi, meningkatkan risiko menjadi lebih mudah terpapar COVID-19 atau mungkin  memperparah kondisi para pasien COVID-19, bisa jadi,” katanya di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Ia mengatakan, asap karhutla yang mungkin terhirup akan membawa zat-zat yang terbakar ke dalam saluran pernapasan, sehingga menyebabkan cedera pada saluran tersebut, terutama paru-paru.

Baca juga: Terungkap! Desa Lebih Disiplin Terapkan PSBB Ketimbang Kota Besar

“Jadi kalau terinhalasi, zat yang terbakar tadi, dapat menyebabkan kerusakan paru. Kerusakan paru ini tentu mempermudah seseorang yang mungkin sudah terinfeksi COVID-19 menjadi semakin berat kondisinya,” katanya.

Kemudian, pada orang-orang yang belum tertular COVID-19 tetapi paru-parunya sudah rusak, risiko menjadi sakit COVID-19 juga menjadi lebih mudah. Sama seperti pada penderita komorbid. “Misalnya, karena TBC paru. Itu karena paru-parunya sudah rusak, pertahanan parunya bisa menjadi tidak optimal,” ujar dia.

Andika menekankan bahwa setiap tubuh manusia pada dasarnya dikaruniai mekanisme pertahanan tubuh yang cukup baik.

Baca juga: Doni Monardo Minta Bonek ‘Hijaukan’ Jawa Timur dari COVID-19

“Ada rambut-rambut hidung yang berfungsi sebagai penangkal benda-benda asing atau debu, sehingga kalau partikelnya besar bisa tertahan lebih dahulu. Begitu juga di bronkus. Di saluran napas kita itu ada lendir yang kita kenal sebagai dahak. Dahak tersebut sebenarnya merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh agar dapat menangkap benda-benda asing seperti debu, bakteri atau virus yang bisa kita keluarkan melalui batuk,” kata Andika menjelaskan.

Namun demikian, pada orang-orang yang paru-parunya sudah rusak karena kemungkinan menghirup zat-zat yang dihasilkan dari karhutla, mekanisme pertahanan tubuhnya menjadi terganggu, sehingga tidak optimal dalam menangkal zat-zat berbahaya ataupun virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit COVID-19.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi