Fahri Hamzah: Kalau Semua Parpol Ingin Ketumnya Nyapres harus Perjuangkan Ini

Headline
Fahri Hamzah (Foto: Pantau.com/Bagaskara Isdiansya)Fahri Hamzah (Foto: Pantau.com/Bagaskara Isdiansya)

Pantau – Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah memantau semua partai politik menginginkan ketua umumnya bertarung untuk menjadi Presiden RI. Namun jika melihat sistem yang ada sekarang tidak memungkinkan untuk hal itu.

Fahri memberikan terobosan agar semua ketum parpol bisa berpeluang masuk gelanggang pertarungan.

“Kalau semua partai politik menghendaki ketua umumnya menjadi Presiden RI, kenapa tidak memperjuangkan 14 Februari 2024 (hari pemungutan suara) sebagai primary,” kata Fahri dalam webinar Moya Institute: Pemisahan Pilpres dengan Pileg: Tinjauan Strategis, Jumat (24/6/2022).

Primary adalah sistem yang populer digunakan dalam Pemilihan Presiden di Amerika Serikat. Primary adalah tahapan pemilihan pendahulu untuk menentukan calon presiden yang kemudian dipilih partai politik untuk dipertarungkan lagi di tengah publik. Sederhananya ada seleksi dari tingkat bawah.

“Sebab menurut saya tidak ada negara demokrasi tanpa primary. Presiden itu tidak bisa ujug-ujug oleh 270 juta rakyat, 192 juta pemilih, ujug-ujug milih 2. Enggak ada itu. Enggak usah pemilihan presiden. Di kampung saja, pertandingan sepak bola ada primary-nya. Masak Pilpres enggak ada primary-nya. Kan aneh ini,” tegas Fahri.

Sementara saat ini, kandidat capres hampir mutlak ditentukan partai politik. Penentuan itu pun berdasarkan suara yang diperoleh 2019.

Rakyat sama sekali tidak bisa secara langsung menentukan kandidat capres. Alhasil, capres terpilih nanti sarat dengan dugaan-dugaan negatif dan terus dikaitkan dengan pemilik modal besar.

“Jadi sebenarnya lingkaran setan ini tidak mau dihentikan. Saya berharap sekali kalau Bapak Presiden kita bisa mendapatkan masukan, beliau yang bisa menghentikan ini. Sudahlah, presiden jangan dirongrong,” ujar Fahri.

“Saya sebenarnya terganggu dengan kampanye parpol untuk ngumpul-ngumpul. Bayangkan, ada ketum parpol yang semuanya adalah anggota kabinet. Ngumpul-ngumpul mau mencalonkan orang baru. Padahal dia harus loyal kerja di kabinet. Kabinet akhirnya mulai terpecah. Si ini nge-block ke sini dan si ini nge-block ke sini. Kan tidak sehat. Ini mengirim sinyal ke luar bahwa Presiden kita tidak bisa berbuat apa-apa. Rakyat kasih mandat kuat kepada presiden sampai menit terakhir,” lanjut Fahri.

Tim Pantau
Reporter
Tim Redaksi
Editor
Muhammad Rodhi