Farhat Abbas Jadi Kuasa Hukum Hasnaeni ‘Wanita Emas’

Headline
Farhat Abbas. (Foto: Instagram/farhatabbastv)Farhat Abbas. (Foto: Instagram/farhatabbastv)

Pantau – Farhat Abbas ditunjuk menjadi kuasa hukum Hasnaeni alias ‘Wanita Emas’. Hasnaeni ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyimpangan dana PT Waskita Beton Precast, Kamis (22/9/2022).

Dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (25/9/2022), Farhat mengaku ditunjuk sebelum Hasnaeni ditahan Kejaksaan Agung dalam kasus itu.

“Sebagai kuasa hukum (Hasnaeni). Saya dapat surat kuasa itu selang 1,5 jam sebelum penahanan,” ujar Fahat.

Farhat menyatakan surat kuasa sebagai kuasa hukum Hasnaeni sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung. “Begitu tanda tangan kuasa, kita langsung ke Kejagung,” katanya.

Farhat mengaku begitu resmi ditunjuk menjadi kuasa hukum langsung diminta Hasnaeni untuk menyampaikan surat sakit ke Kejagung. Namun, surat sakit belum disampaikan, Kejagung keburu menahan Hasnaeni.

“Dia harus berobat di rumah sakit. Dia menghubungi saya untuk menyampaikan surat, cuma selisih waktu saja, saya mau ke Kejaksaan, tapi tim Kejaksaan sudah menjemput dia,” jelasnya.

Hasnaeni, selaku Direktur Utama PT Misi Mulia Metrikal (MMM) atau dikenal dengan julukan “Wanita Emas”, ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dana PT Waskita Beton Precast, Kamis (22/9/2022).

Selain Hasnaeni, Kejagung juga menetapkan Kristadi Juli Hardjanto selaku General Manajer PT Waskita Beton Precast (WBP), sebagai tersangka.

Dalam perkara ini, Hasnaeni selaku Direktur PT MMM dengan dalih sedang mengerjakan pembangunan Tol Semarang V menawarkan pekerjaan kepada PT Waskita Beton Precast dengan syarat harus menyetorkan sejumlah uang kepada perusahaan wanita emas tersebut dengan dalih penambahan modal.

“Adapun nilai pekerjaannya ditawarkan Rp341 miliar,” ujar Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Kuntadi di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (22/9/2022).

Atas permintaan PT MMM itu, lanjut Kuntadi, PT WBP menyanggupi dan selanjutnya tersangka KJ selaku General Manager PT WBP membuat tagihan pembayaran (invoice) pembayaran seolah-olah PT WBP membeli material kepada PT MMM.

“Atas tagihan fiktif dari PT MMM maka PT WBP menyetorkan uang senilai Rp16,844 miliar,” kata Kuntadi.

Kuntadi menyebutkan, uang tersebut diketahui digunakan untuk keperluan pribadi.

Perkara ini merupakan hasil pengembangan dan bagian dari tindak pidana korupsi PT WBP senilai Rp2,5 triliun. Penanganan perkara ini berhasil dikembangkan adanya indikasi penerbitan SCF yang didasari pada invoice fiktif pada PT Waskita Karya kurang lebih Rp2 triliun.

Dalam perkara ini, sebelumnya jaksa penyidik telah menetapkan empat orang tersangka, yakni Agus Wantoro (Direktur Pemasaran PT Waskita Beton Precast Tbk periode 2016-2020), Benny Prastowo (Staf Ahli Pemasaran PT Waskita Beton Precast), Agus Prihatmono (General Manager Pemasaran PT Waskita Beton Precast Tbk periode 2016-2020) dan Anugriatno (pensiunan karyawan PT Waskita Beton Precast Tbk.

Tim Pantau
Editor
Aries Setiawan
Penulis
Aries Setiawan