Pantau Flash
Pemberlakuan PSBB di Surabaya Raya Diperpanjang hingga 8 Juni 2020
Masyarakat Wajib Tes Deteksi COVID-19 Sebelum bepergian ke Daerah Lain
Total Pasien Sembuh COVID-19 di Indonesia Meningkat Jadi 5.642 Orang
Polda Jabar Lakukan Penyekatan Lalu Lintas Mengarah ke Jakarta
Hingga 25 Mei, Jumlah Pasien Sembuh COVID-19 di RSD Kemayoran 1.936 Orang

Gerindra Akan Ditinggalkan Pemilihnya Jika Bergabung dengan Koalisi Jokowi

Headline
Gerindra Akan Ditinggalkan Pemilihnya Jika Bergabung dengan Koalisi Jokowi Ilustrasi (Foto: Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Pengamat politik dari Universitas Telkom, Dedi Kurnia menyebutkan Partai Gerindra akan ditinggalkan pemilihnya bila bergabung dalam koalisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tidak sadari, 68 juta pemilih setidaknya berharap Prabowo menjadi presiden, atau sekurang-kurangnya sebanyak itu tidak menyukai Jokowi. Jika hari ini kemudian Prabowo menjual kepercayaan publik dengan kursi kabinet, Gerindra terancam ditinggal pemilih," kata Dedi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Baca juga: Ditanya Prabowo Soal Hubungan Mereka, Jokowi: Sangat Mesra

Prabowo pun diminta untuk tidak bergabung dengan koalisi Joko Widodo dan konsisten sebagai oposisi pemerintah.

Menurut dia, apabila Prabowo bergabung dengan Joko Widodo, sama saja dengan mempermalukan diri sekaligus pemilihnya di Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) menyadari Jokowi akan mendapat keuntungan jika Prabowo bergabung. Namun, bergabungnya Prabowo ke dalam pemerintah akan memperlemah fungsi check and balance di negeri ini.

"Ini penanda kurang baik bagi demokrasi kita, pemerintah yang terlalu dominan akan melahirkan tirani," katanya.

Dedi mengharapkan antara Jokowi dan Prabowo menjaga etika politik untuk menghasilkan pemerintahan yang berimbang, pengawasan proporsional, dan kekuasaan tidak dominan hanya satu sisi.

"Kondisi saat ini sebenarnya sudah sangat berpihak pada pemerintah, bisa kita lihat dari parlemen yang dikuasai mitra koalisi pemerintah," tuturnya.

Baca juga: Prabowo Tegaskan Penusukan yang Dialami Wiranto Bukan Rekayasa

Akan tetapi, dalam politik praktis, Gerindra telanjur kalah, baik di pilpres juga di pileg sehingga memerlukan ruang unjuk menonjolkan diri di kabinet. Begitu juga dengan Demokrat, memerlukan ruang yang sama untuk memunculkan nama Agus Harimurti Yudhoyono demi 2024.

"Prabowo harus tetap konsisten sebagai oposisi dalam kondisi apa pun. Setidaknya keberadaannya bisa memgimbangi dominasi kubu pemenang," tegas Dedi.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: