Habis Bunuh Brigadir J, Ferdy Sambo Perintah Ajudan dan Pembantu Ganti HP iPhone 13 Pro

Headline
Brigadir J dan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo (Dok: Istimewa)

Pantau – Usai pembunuhan Brigadir Nofryansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J, Irjen Ferdy Sambo memerintahkan ajudan dan pembantu rumah tangga mengganti ponsel. Termasuk ponsel Brigadir J yang turut diganti. Hal ini dilakukan guna menghilangkan barang bukti.

“Untuk menghilangkan jejak, Ferdy dan para ajudan serta pembantu rumahnya mengganti telepon seluler,” demikian laporan Majalah Tempo, dikutip Senin (15/8/2022).

“Termasuk milik Yosua, dengan iPhone 13 Pro,” imbuhnya.

Penggantian ini terjadi pada Kamis (14/7/2022) atau nyaris satu seminggu setelah kejadian pembunuhan.

“Hingga kini, perwira Mabes Polri anggota tim khusus penyelidikan kematian Yoshua bentukan Jenderal Listyo Sigit tak menemukan semua telepon seluler Yoshua dan para ajudan serta pembantunya,” kata Majalah Tempo.

Selain itu, beberapa hari setelah penembakan, Bharada E, penembak Brigadir J atas perintah Sambo, sempat dijanjikan akan diberikan Rp1 miliar oleh Sambo. Sambo juga disebut menjanjikan masing-masing Rp500 juta kepada Bripka Ricky dan Kuwat Maruf, orang-orang yang juga terlibat dalam pembunuhan. Namun hingga akhirnya skenario tembak-menembak yang dibuat Sambo terbongkar, uang tersebut tak sempat diterima.

“Ia (Sambo) berjanji memberi uang jika penyidikan kematian Yosua kandas. Richard akan menerima Rp1 miliar, sedangkan Ricky dan Kuwat masing-masing Rp500 juta,” jelas Majalah Tempo.

Sambo sendiri telah membuang sarung tangan hitam yang ia gunakan saat menembak mati Brigadir J. Jenderal polisi bintang dua itu memang sejak awal terlihat merencanakan pembunuhan Brigadir J.

Karenanya ia dijerat pasal pembunuhan berencana, dan terancam hukuman mati.

“Dari hasil pemeriksaan menurut peran, penyidik menetapkan pasal 340 subsider pasal 338, juncto 55, juncto 56 KUHP,” kata Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

“Ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun,” sambungnya. [Laporan: Kiki]

Tim Pantau
Editor
M. Abdan Muflih