Pantau Flash
KSAD Andika Perkasa: Klaster COVID-19 Secupa AD dari Ketidaksengajaan
Ada 1.671 Kasus Baru di RI, Total Infeski COVID-19 Capai 74.018
Polda Metro Sebut Editor Metro TV Yodi Prabowo Tewas Dibunuh
Gubernur Babel Resmi Gugat UU Minerba ke MK
Euforia Turki Resmikan Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid

Hasil Negatif Rapid Test Tak Jamin Bebas COVID-19

Headline
Hasil Negatif Rapid Test Tak Jamin Bebas COVID-19 Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil tes cepat (rapid test) pendektesian COVID-19 kepada orang dalam pengawasan (ODP) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/3/2020). (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya)

Pantau.com - Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menegaskan hasil rapid test atau tes cepat bukanlah merupakan jaminan tidak terinfeksi penyakit yang disebabkan virus korona baru itu.

"Manakala di antara saudara-saudara ada yang sudah melaksanakan rapid test dan hasilnya negatif, jangan memaknai anda bebas dari penyakit ini," ujar Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Terdapat beberapa kasus yang tesnya menunjukkan hasil negatif, sebenarnya merupakan pasien yang sudah terinfeksi tapi karena waktu infeksi masih kurang dari 7 hari maka hasil yang keluar belum menunjukkan fakta tersebut.

Baca juga: Positif COVID-19 di RI Jadi 1.046 Orang, 87 Meninggal, dan 46 Sembuh

Hal itu disebabkan karena antibodi belum terbentuk maka saat pemeriksaan bisa memberikan hasil yang negatif, kata dia. Sebenarnya virus SARS-CoV-2 itu sedang berproses karena tubuh manusia bisa mendapatkan antibodi setelah hari ketujuh setelah infeksi.

"Oleh karena itu seharusnya dilakukan pemeriksaan ulang pada tujuh hari setelah pemeriksaan pertama. Manakala dalam pemeriksaan tujuh hari kemudian juga masih negatif maka saat ini bisa dikatakan saudara sedang tidak terinfeksi," tegas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan itu.

Baca juga: Ini Kriteria Pasien COVID-19 yang Diterima di RS Darurat Wisma Atlet

Tapi hal itu tidak akan menjamin seseorang akan bebas atau kebal dari COVID-19. Hasil tes cepat, kata Yurianto, hanya menunjukkan seseorang belum terinfeksi dan masih memiliki risiko tertular penyakit yang menyerang sistem pernapasan itu.

Untuk itu, setiap orang harus tetap waspada dan melakukan jaga jarak untuk menghindari kontak dengan orang yang sudah terinfeksi.

Tes cepat digunakan untuk rekomendasi awal bagi kelompok tanpa gejala, orang dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan untuk melakukan isolasi diri dan kembali melakukan tes beberapa hari kemudian.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: