Hasil ‘Penggodokan’ Scientific Crime Investigation Rawan Terhadap Analisa

Headline
Kerabat memegang foto mendiang Brigadir J saat pemakaman kembali jenazah setelah autopsi ulang di Sungai Bahar, Muarojambi, Jambi, Rabu (27/7/2022).ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp.

Pantau – Hasil ‘penggodokan’ Scientific Crime Investigation (SCI) menguak kejanggalan kematian Brigadir Nopriansyah Joshua Hutabarat, tak lepas dari opini masyarakat.

Publik seakan ‘menghakimi’ secara tidak langsung di media sosial atas proses jalannya rekontruksi, autopsi ulang mayat Brigadir J.

Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Devie Rahmawati, mengatakan selalu ada kontroversi, bahkan ‘penghakiman’ masyarakat selama proses hukum kasusnya berlangsung. Opini yang berkembang di masyarakat rawan mempengaruhi analisa terhadap fakta yang ada.

“Viralitas yang berisi banyaknya opini di media sosial akan memperkuat poralisasi yang ada di masyarakat,” ujarnya Senin (01/08/2022).

Devie Rahmawati menilai tantangannya adalah temuan berdasar pembuktian ilmiah tidak serta merta dipercaya sebagai fakta oleh masyarakat.

“Orangnya sudah dituding bersalah bahkan jauh dari proses hukum yang ada, akan terpenjara ataupun lainnya,” ujarnya kepada wartawan.

Masyarakat berharap, Polri mampu mengungkap kasus tewasnya Brigadir J yang diduga akibat baku tembak melawan Bharada E di rumah Irjen Ferdy Sambo. Menurut SCI, minimnya saksi atas kejadian yang terjadi pada 8 Juli 2022, membuat publik berharap segera terungkap.

SCI merupakan rangkaian proses penyelidikan atau penyidikan kejahatan berdasar barang-barang bukti dan fakta lain yang ditemukan. Hasil analisa terhadap barang-barang bukti dapat melengkapi, menguatkan atau memperlemah pengakuan para sakti dan tersangka.

“Penanggungjawab pelaksanaan SCI ini adalah seorang dokter forensik yang berkoordinasi dengan ahli-ahli lainnya terkait kasus yang terjadi”, ujar ahli forensik dari Universitas Airlangga, Ahmad Yudianto, Senin (01/08/2022).

Tim Pantau
Editor
Desi Wahyuni
Penulis
Desi Wahyuni