Jaksa Agung Sebut Penyalahgunaan Narkotika Lebih Tepat Mendapat Rehabilitasi Bukan Penjara

Headline
Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri 1443 Hijrian/2022Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri 1443 Hijrian/2022

Pantau – Jaksa Agung Republik Indonesia Sanitiar Burhanuddin menyebutkan bahwa penyalahgunaan narkotika lebih tepat jika mendapatkan rehabilitasi daripada penjara karena sejalan dengan semangat kebijakan penerapan keadilan restoratif narkotika. Ia menyampaikan hal tersebut berkenaan dengan peringatan hari anti narkorika Internasional Minggu (26/6/2022) lalu.

“Pola penanganan pelaku penyalahgunaan narkotika lebih tepat apabila mendapatkan rehabilitasi, bukan dihukum penjara. Ini sejalan dengan semangat kebijakan penerapan keadilan restoratif narkotika,” kata Burhanuddin melalui acara diseminasi penelitian bertajuk Disparitas dan Kebijakan Penanganan Perkara Tindak Pidana Narkotika di Indonesia yang disiarkan di kanal YouTube IJRS TV, dipantau dari Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Dirinya menjelaskan tujuan dari penerapan keadilan restoratif dalam perkara narkotika adalah untuk memulihkan keadaan korban penyalahgunaan narkotika menjadi seperti semula.

Selain itu juga, penerapan tersebut berpegangan pada asas-asas peradilan yang cepat, sederhana dan ringan biaya.

“Dalam kenyataannya, penanganan perkara penyalahgunaan narkotika masih berorientasi pada penghukuman penjara terhadap para pelaku penyalahgunaan narkotika,” kata Burhanuddin.

Untuk mengatasi adanya orientasi penghukuman penjara yang mengakibatkan inkonsistensi dalam penerapan hukum, pihak kejaksaan telah menerbitkan Pedoman Kejaksaan Nomor 11 Tahun 2021 tentang Penanganan Perkara Tindak Pidana Narkotika dan/atau Tindak Pidana Prekursor Narkotika. Hal tesebut diterapkan untuk mewujudkan peran sentra jaksa sebagai pengendali perkara.

Kemudian, terdapat pula Pedoman Kejaksaan Nomor 18 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Penanganan Perkara Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika melalui Rehabilitasi dengan Pendekatan Keadilan Restoratif sebagai Pelaksanaan Asas Dominus Litis Jaksa.

Ia mengatakan bahwa reorientasi kebijakan penanganan perkara pidana korban penyalahgunaan narkotika menjadikan tolok ukur keberhasilan jaksa. Dia pun berharap para penyalahguna narkotika tidak lagi dijatuhi pidana penjara, tetapi direhabilitasi untuk disembuhkan dari ketergantungan.

“Jadi, bukan hanya dari berapa banyak perkara narkotika yang dilimpahkan ke pengadilan, melainkan bagaimana seorang jaksa mampu kedepankan keadilan restoratif dalam penanganan perkara penyalahgunaan narkotika,” ujarnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Reporter
Renalya Arinda