Pantau Flash
Menteri PPPA Ungkap UU Ketenagakerjaan Tumpang Tindih Soal ASI 6 Bulan
Pemerintah Siapkan Pendanaan Vaksin COVID-19 Sebesar Rp5 Triliun
Bandung Buka Sekolah Tatap Muka Mulai 18 Agustus 2020
Gempa Bumi Magnitudo 5,3 Guncang Maluku Utara
Menteri Edhy: Saya Bukan Menteri Kelautan dan Periklanan

Jubir Pemerintah Ungkap Penyebab Masifnya Kasus Baru COVID-19 di RI

Jubir Pemerintah Ungkap Penyebab Masifnya Kasus Baru COVID-19 di RI Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto (Foto: Antara)

Pantau.com - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan, peningkatan kasus positif baru COVID-19 terjadi karena pelacakan (tracing) kontak agresif dan tes masif yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

"Banyaknya kasus baru yang kita temukan disebabkan karena tracing yang semakin agresif yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan daerah, disertai testing yang masif dari tracing yang kita dapatkan," kata Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (3/7/2020).

Semua kasus positif tersebut adalah hasil dari pemeriksaan memakai real time PCR dan Tes Cepat Molekuler (TCM), bukan dari tes cepat (rapid test) yang hanya akan digunakan sebagai tuntunan untuk tracing.

Pemeriksaan PCR dan TCM sendiri dilakukan untuk melakukan intervensi bagi kesehatan masyarakat dan bukan untuk protokol layanan klinis di rumah sakit. Hal itu karena, menurut Yuri, terdapat pasien positif tanpa gejala yang cukup menjalankan isolasi mandiri.

Baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Tembus 60.000 per 3 Juli

Keberadaan pasien tanpa gejala yang melakukan isolasi mandiri berakibat tempat tidur untuk pasien COVID-19 tidak terpakai seluruhnya. Dalam data terbaru Gugus Tugas, Bed Occupancy Ratio (BOR) atau persentase penggunaan tempat tidur pasien COVID-19 hanya 55,5 persen.

Pasien yang dirawat juga tidak seluruhnya memiliki gejala berat, tapi yang bergejala sedang atau membutuhkan pengawasan khusus karena sudah memiliki kondisi medis lain sebelumnya.

Selain penambahan kasus baru, Yurianto juga mengatakan bahwa beberapa provinsi telah memiliki tingkat kesembuhan di atas 70 persen, dengan persentase nasional kesembuhan berada di kisaran 42 persen. "Angka ini pasti akan naik karena proses sembuh membutuhkan waktu," tegas dia.

Sampai dengan Jumat (3/7) pukul 12.00 WIB, Indonesia mencatat total 60.695 kasus positif COVID-19 dengan 27.568 orang dinyatakan sembuh dan 3.036 meninggal dunia.

Baca juga: Klaim Penyejuk Hati dari Tim Pakar Gugus Tugas COVID-19 di Tanah Air

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: