Kasus Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar, Sembilan Tahun Baru Ditetapkan Jadi Tersangka

Headline
Emirsyah Satar adalah Direktur Utama PT. Garuda Indonesia yang mengundurkan diri pada 8 Desember 2014. (Foto: Antara)

Pantau – Emirsyah Satar adalah Direktur Utama PT. Garuda Indonesia yang mengundurkan diri pada 8 Desember 2014. Saat itu, sebagai Dirut Garuda Indonesia, ia digantikan oleh Arif Wibowo.

Hari ini, Senin, (27/6/2022) Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan Mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi Soetikno Soedardjo sebagai tersangka. Mereka ditetapkan sebagai tersangka anyar kasus dugaan korupsi penyewaan pesawat ATR 72-600 di PT Garuda Indonesia.

Dia adalah seorang Ekonom lulusan Universitas Indonesia tahun 1985. Dia lahir dari pasangan Minangkabau dengan Ayah berasal dari Sulit Air, Solok dan ibunya berasal dari Bukittinggi. Karena ayahnya adalah seorang Diplomat, kehidupan Satar ikut berpindah – pindah sesuai kepindahan kerja ayahnya.

Perkara ini bermula pada kurun waktu 2011-2021, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melakukan pengadaan pesawat dari berbagai jenis tipe pesawat, antara lain Bombardier CRJ-100 dan ATR 72-600, yang mana untuk pengadaan Bombardier CRJ-1000 dan ATR 72-600 yang dilaksanakan dalam periode Tahun 2011-2013 terdapat penyimpangan dalam proses pengadaannya antara lain:

1. Kajian Feasibility Study / Business Plan rencana pengadaan pesawat Sub-100 Seaters (CRJ-1000) maupun pengadaan pesawat turbopropeller (ATR 72-600) yang memuat analisis pasar, rencana jaringan penerbangan, analisis kebutuhan pesawat, proyeksi keuangan dan analisis resiko tidak disusun atau dibuat secara memadai berdasarkan prinsip pengadaan barang dan jasa yaitu efisien, efektif, kompetitif, transparan, adil dan wajar serta akuntabel;

2. Proses pelelangan dalam pengadaan pesawat Sub-100 Seaters (CRJ-1000) maupun pengadaan pesawat turbopropeller (ATR 72-600) mengarah untuk memenangkan pihak penyedia barang / jasa tertentu, yaitu Bombardier dan ATR;

3. Adanya indikasi suap-menyuap dalam proses pengadaan pengadaan pesawat Sub-100 Seaters (CRJ-1000) maupun pengadaan pesawat turbopropeller (ATR 72-600) dari manufacture.

Dengan demikian, akibat penyimpangan dalam proses pengadaan pesawat CRJ-1000 dan ATR 72-600 tersebut mengakibatkan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk. mengalami kerugian dalam mengoperasionalkan pesawat CRJ-1000 dan ATR 72-600.

Awal karirnya dia mulai sebagai seorang auditor di kantor akuntan Pricewaterhouse Coopers pada 1983. Pekerjaan ini dia lakukan sebelum dia menyelesaikan kuliahnya. Setelah dia menyelesaikan studinya, dia kemudian menggunakan bekal ilmu akutansinya untuk bekerja sebagai Assistant of Vice President of Corporate Banking Group Citibank tahun 1985.

Dunia perbankan tetap menjadi pilihannya untuk bekerja, pada tahun 2003-2005 dia menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Satar juga pernah bekerja menjadi Presiden Direktur PT Niaga Factoring Corporation.

Satar kemudian meninggalkan dunia perbankan dengan menjabat sebagai Direktur Keuangan PT. Garuda Indonesia pada 2003. Dia kemudian dipercaya untuk menjadi Direktur Utama PT. Garuda Indonesia dari tahun 2005 sampai sekarang 2014.

Dan Satar telah menjadikan Maskapai terbesar ini menjadi Maskapai favorit dan terpercaya bagi kalangan dalam Negeri dan luar Negeri. Setelah berhasil membawa Garuda Indonesia menggapai rating bintang empat, obsesinya kini membawa BUMN ini mendapat peringkat bintang lima.

Selanjutnya Satar dikabarkan tengah mengikuti proses seleksi (fit and proper test) menjadi Dirut PT Pertamina (Persero).

Tersangka Emirsyah terlibat kasus korupsi yang telah merugikan keuangan negara hingga mencapai Rp8,8 triliun. Pengadaan pesawat Garuda diduga melawan hukum dan menguntungkan pihak Lessor.

Tim Pantau
Editor
Desi Wahyuni
Penulis
Desi Wahyuni