Kasus Penembakan Brigadir J di Rumah Irjen Ferdy Sambo Jadi Kado Buruk HUT Ke-76 Polri

Headline
Anggota Komisi III DPR RI Trimedya Panjaitan. (Foto: Antara)Anggota Komisi III DPR RI Trimedya Panjaitan. (Foto: Antara)

Pantau – Kasus penembakan antarpolisi yang menewaskan Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo mendapat sorotan tajam legislator Komisi III DPR RI Fraksi PDIP, Trimedya Panjaitan. Menurutnya, kasus ini sebagai kado buruk pada HUT ke-76 Polri.

Ia mengharapkan ada titik terang setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk tim khusus (timsus) dari internal dan eksternal mengusut tuntas kasus penembakan antarpolisi ini.

“Semoga pekan depan ada titik terang agar masyarakat percaya. Ini jadi kado buruk HUT ke-76 Polri menurut saya,” ujar Trimedya dalam webinar instagram @diskusititiktemu bertajuk ‘Citra Polisi di Bulan Bhayangkara’, Sabtu (16/7/2022).

Sejumlah kejanggalan pun ikut disorot Trimedya. Beberapa hasil penyelidikan Polri dianggap janggal, seperti asal muasal Bharada E menggunakan senjata Glock 17 ketika menembak Brigadir J yang saat itu memakai pistol jenis HS-9.

Menurut Trimedya, pemakaian senjata Glock 17 oleh Bharada E tidak wajar. Sebab, senjata api (senpi) tersebut bukan untuk anggota Polri setingkat Bhayangkara Dua (Bharada).

“Kalau dulu, bukan sersan, balok lah ya istilahnya ya, dan itu biasanya AKP atau kapten yang pegang jenis senjata itu (Glock-17). Karena senjata itu kan mematikan… Sama seperti yang disampaikan Pak Arianto tadi, harusnya dia (Bharada E) laras panjang,” ujarnya.

Sementara itu, kejanggalan kedua berkaitan dengan bekas tembakan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo yang tidak pernah ditampilkan ke publik.

“Kemudian olah TKP-nya, kalau dikatakan tembak menembak itu kan sampai sekarang ini delapan hari ya, kita tidak pernah (lihat), paling tidak pers boleh masuk. Ada enggak bekas tembak-tembakan itu di sekitar rumahnya? Di dinding atau di tangga, darah, kan enggak pernah ada (ditampilkan),” ujarnya.

Politikus PDIP itu menyebut, mana mungkin terjadi penembakan tanpa meninggalkan bekas, misalnya darah, kaca pecah, atau lainnya.

“Kita yang orang hukum, kelihatannya ya akal sehat kita dibalikkan. Nah itu kan harusnya ada. Enggak mungkin dong orang tembak-tembakan enggak ada bekas darahnya, kaca pecah atau apa, itu kan enggak pernah dilihatkan,” jelasnya.

Selain dua kejanggalan tersebut, ada hal lain saat konfernsi pers yang dilakukan Polri. Trimedya menduga ada ketidaksiapan seolah-olah dirahasiakan pihak kepolisian ketika merilis ke media massa.

Keterangan pertama disampaikan Divisi Humas Polri, Senin (11/7/2022). Tampak minim kesiapan saat merilis kasus itu. Belum lagi jumpa pers di Polres Meto Jakarta Selatan di hari berikutnya. Tak ada barang bukti satu pun yang ditampilkan ke publik.

“Aneh, saya dari tahun 1991 sudah jadi pengacara. Enggak pernah tuh saya melihat ada konferensi pers barang bukti enggak ditunjukkan. Itu enggak ditunjukkan barang buktinya. Itu selongsong seperti apa? Jenis senjata seperti apa?” ujarnya.

Ketika rilis media di Polres Metro Jakarta Selatan, Trimedya juga memperhatikan Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto menutup lembar putih tanpa menunjukkan ke rekan-rekan wartawan yang hadir.

“Kapolres Jakarta Selatan itu pada saat konferensi pers dia pegang kertas, ya nggak tau itu kertas apa. Apakah kertas ringkasan autopsi atau kertas apa? Biasanya kan diberikan kesempatan untuk rekan-rekan media, karena itu konferensi pers, wartawan bisa close-up hasil itu, ini kan enggak,” katanya.

Oleh karenanya, Trimedya mengusulkan kepada Kapolri melalui pesan singkat WhatsApp untuk membentuk timsus terkait menarik berkas ke Mabes Polri karena sudah menjadi isu nasional. Selain itu, Trimedya juga meminta Listyo Sigit menonaktifkan Ferdy Sambo.

Tim Pantau
Reporter
Khalied Malvino
Editor
Aries Setiawan