Pantau Flash
Pemerintah Izinkan Shalat Idul Adha Digelar di Masjid di Luar Zona Merah dan Oranye
Wapres Sebut MUI Terapkan Moderasi dalam Fatwa Vaksin COVID-19
Pemerintah Anggarkan Rp2 Triliun untuk Bayar Utang ke Guru dan Dosen Agama
36 Pegawai Kedeputian Penindakan KPK Positif COVID-19
Pos Penyekatan di Jembatan Suramadu Resmi Ditiadakan

Kata Mahfud MD, Soekarno Pernah Getol Ingin Dirikan Negara Sekuler

Kata Mahfud MD, Soekarno Pernah Getol Ingin Dirikan Negara Sekuler Ilustrasi Soekarno. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Menko Polhukam membantah adanya isu yang menyatakan jika pemerintah Indonesia tidak senang dengan Islam. Terakhir, Profesor Australian National University (ANU) yang menyampaikan hal itu.

Menurutnya, Indonesia adalah negara yang hidup dengan ideologi Pancasila. Ia menegaskan, pandangan itu adalah penengah di antara keinginan negara sekuleer dan negara agama.

"Siapa yang bilang di Indonesia, Islam didiskriminasi. Sapa yang bilang Islam disudutkan, tidak ada itu semua. Semua agama diberi kebebasan kepada pemeluknya untuk memluk ibadah," kata Mahfud MD, dalam sebuah video yang diunggah channel YouTube Kemenko Polhukam, seperti dikutip Pantau.com, Minggu (4/10/2020). "Sekarang ini kita hidup di negara Pancasila.

Baca juga: Mahfud Cerita COVID-19: Dari Donald Trump hingga PKS, Golkar, PKB dan PPP


Ir. Soekarno saat berorasi (Foto: Dok. Arsip Nasional RI)

Kemudian, pria berusia 63 tahun itu bercerita tentang kejadian-kejadian yang terjadi jelang kemerdekaan RI. Banyak yang bersuara tentang keinginan masing-masing golongan kala itu. 

"Ketika Indonesia menjelang kemeredekaan, terjadi perdebatan atau polemik dikalangan para pendiri negera. Yang satu ingin mendirikan negara sekuler, yang satu mendirikan negara agama," kata dia.

Baca juga: 7 Bulan Pandemi, Jokowi: Tidak Perlu Sok-sokan Me-Lockdown Provinsi

Negara sekuler, adalah negara yang tidak mengurus dan diurus Agama. Seperti halnya, Perancis, Turki di bawah Kemal Ataturk, AS, Jerman. Sementara negara agama adalah, negara dengan banyak keragaman, namun menggunakan hukum dari satu agama.

Negara agama sendiri, sambung Mahfud, seperti Vatikan, banyak agama tapi yang berlaku hanya Katolik. Negara Arab Saudi negara beragam, tapi yang berlaku hukum Islam. Serta Iran yang menggunakan hukum syiah.

"Bung Karno semula getol mengusulkan negara sekuler. Kata Bung Karno, negara itu kalau diurus agama, agamanya mundur, negaranya mundur. Namun akhirnya diputuskan, Indonesia negara Pancasila, bukan negara agama, bukan negara sekuler, Religius nation state. Itu dasar ideologi negara, sampai sekarang," papar manatan ketua MK itu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: