Ketum PBNU: Kikis Politik Identitas yang Digunakan sebagai Senjata Politik

Headline
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Deni Hardimansyah/Pantau.com)Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Deni Hardimansyah/Pantau.com)

Pantau.com – Ketua Umum PBNU, Yahya Cholik Staquf mengungkapkan, radikalisme memiliki satu dimensi utama yaitu dimensi politik. Radikalisme tumbuh dan berkembang karena alasan-alasan politik.

“Bergerak seperti gerakan politik mengusut cita-cita politik,” kata Yahya dalam acara Zulhas Award 2022 di Auditorium Perpustakaan Nasional, Sabtu, 29 Januari 2022.

 

Ia juga menyampaikan, dalam menghadapi radikalisme butuh peranan elemen masyarakat. Itu dilakukan untuk mengikis politik identitas sebagai senjata elit-elit politik.

 

“Dalam menghadapi radikalisme ini diantaranya perlu kita perjuangkan adalah mengikis praktek-praktek digunakannya identitas sebagai senjata politik, identitas agama, identitas etnik, maupun identitas-identitas yang berasal dari label-label dari ideologi lainnya,” katanya.

 

Yahya mengatakan, seluruh keluarga NU mengucapkan selamat atas suksesnya acara Zulhas Award 2022 dan pidato kebangsaan yang disampaikan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.

 

“Selamat atas penghargaan penganugerahaan Zulhas Award pada hari ini. Atas nama Nahdlatul Ulama, saya berdoa semoga Allah SWT senantiasa melimpahi bapak Zulkifli Hasan dengan kekuatan untuk terus berjuang dalam mengikis politik identitas,” katanya.

 

Ia juga meminta kepada Wakil Ketua MPR untuk berjuang mempertahankan demokrasi yang selama ini ditanamkan di Tanah Air.

 

“memperjuangkan demokrasi yang lebih rasional untuk kemaslahatan bersama dan seluruh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucapnya.

Tim Pantau
Editor
abdan
Penulis
M. Abdan Muflih