Pantau Flash
Kompetisi J-League Ditunda Akibat Virus Korona
Pemerintah Berikan Diskon Tarif Pesawat Akibat Serangan Korona
Komisi III DPR RI Desak MenkumHAM Yasonna Laoly Evaluasi Pegawai
Mentan Syahrul Yasin Limpo Dorong Mahasiswa IPB Jadi Petani Modern
Polri: Pemilik Zat Radioaktif Ilegal yang Gemparkan Tangsel Pegawai BATAN

Kivlan Zen Sempat Beri Uang Rp25 Juta untuk Mata-matai Wiranto dan Luhut

Headline
Kivlan Zen Sempat Beri Uang Rp25 Juta untuk Mata-matai Wiranto dan Luhut Kivlan Zen di persidangan (Foto: Antara/Reno Esnir)

Pantau.com - Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen dalam sidang pembacaan dakwaan yang dilakukan oleh jaksa penuntut umum Fahtoni, disebutkan menyerahkan uang Rp25 juta kepada seseorang bernama Tajudin melalui orang lain bernama Helmi Kurniawan. 

Uang itu untuk memata-matai Menko Polhukam Wiranto dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

"Saksi Helmi Kurniawan menyerahkan uang sebesar Rp25 juta yang berasal dari terdakwa (Kivlan) kepada saksi Tajudin sebagai biaya operasional survei dan pemantauan untuk memata-matai Wiranto dan Luhut Binsar Panjaitan," kata Fahtoni, di Gedung Kusuma Atmaja I, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2019).

Baca juga: Hakim Tolak Permohonan Praperadilan Kivlan Zen Terkait Senjata Ilegal

Fahtoni mengatakan dana yang diberikan Kivlan kepada Tajudin berasal dari Habil Marati. Habil memberikan uang 15.000 dolar Singapura kepada Kivlan.

Kemudian Kivlan menukarkan uang tersebut ke kurs rupiah melalui Helmi di tempat penukaran uang dan menerima Rp151,5 juta.

Kivlan mengambil uang Rp6,5 juta dari total uang tersebut dan menyerahkan kembali sisanya sebesar Rp145 juta kepada Helmi.

Saksi Helmi kemudian mengelola uang itu untuk membayar senjata api yang dipesan hingga menyerahkan uang tersebut kepada saksi yang lain.

Baca juga: Sidang Putusan Praperadilan Kivlan, Kuasa Hukum: Semoga Tak Ada Intervensi

Kivlan didakwa menguasai senjata api ilegal. Dia disebut menguasai empat pucuk senjata api dan 117 peluru tajam. Dalam sidang perdana Kivlan, jaksa penuntut umum melakukan dua kali pembacaan dakwaan.

Dakwaan pertama Kivlan dijerat pidana dengan pasal 1 ayat 1 UU No. 12/1951 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan pada dakwaan kedua, Kivlan dijerat pidana dengan pasal 1 ayat 1 UU No. 12/1951 jo pasal 56 ayat (1) KUHP.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia
Category
Nasional

Berita Terkait: