Pantau Flash
Kemenkes Khawatir WNI di Diamond Princess Terjangkit Korona Tanpa Gejala
Kemenhub Siapkan Payung Hukum untuk Sepeda Listrik
China Pecat Sejumlah Pejabat Pasca Pasien Korona di Penjara Meningkat
WNI yang Dievakuasi dari Kapal Diamond Princess Langsung Dikarantina
Persija Hadapi Tim Singapura dalam Tajuk 'The Dream Team'

Kominfo Ungkapkan 4 Kelompok Masyarakat yang Kerap Jadi Target Hoaks

Kominfo Ungkapkan 4 Kelompok Masyarakat yang Kerap Jadi Target Hoaks Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika RI Henry Subiakto mengatakan ada empat kelompok masyarakat yang kerap menjadi target persebaran kabar bohong atau hoaks.

Guru Besar FISIP Universitas Airlangga itu menyebutkan masyarakat mayoritas suatu negara paling sering menjadi sasaran para penyebar konten hoaks.

"Kalau saya mengamati, yang diserang dan coba dimanipulasi itu pasti masyarakat mayoritas. Jadi kalau di Amerika, masyarakat yang dipengaruhi biasanya kulit putih, beragama Protestan dan berbahasa Inggris," ujar Henry yang ditemui di Gedung KPU RI, Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Baca juga: Makin Canggih, Instagram Mulai Gunakan Penangkal Hoax

Menurutnya, emosi kelompok mayoritas sering menjadi sasaran empuk untuk dimainkan, sehingga dukungannya terhadap suatu isu dapat dimanfaatkan. "Di Indonesia target kelompoknya memang berbeda dengan negara lain, tapi strateginya sama. Seperti juga di Brasil, target hoaks biasanya masyarakat beragama Katolik," jelas Henry. 

Selanjutnya, kata dia, korban kabar bohong biasanya didominasi oleh masyarakat yang ada di perkotaan. "Alasannya karena masyarakat di kota punya uang lebih banyak, sehingga lebih mampu membeli ponsel dan mengakses internet," tambah Henry. 

Masyarakat berpendidikan tinggi kini juga tidak luput dari paparan kabar bohong, kata dia. 

Baca juga: 5 Mitos Ini Dipercaya Banyak Orang, Apa Kamu Termasuk?

Menurut Henry, semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin kritis pikirannya. Namun, sikap kritis tersebut dapat menumpul ketika terus-menerus dihadapkan dengan informasi yang bertentangan dengan fakta. Selain kelompok terdidik, masyarakat yang fanatik beragama pun turut menjadi incaran para penyebar kabar bohong, ujar dia. 

Jika masyarakat tidak mau berubah, maka Henry memperkirakan persebaran hoaks akan makin sulit dihentikan dalam beberapa tahun ke depan. "Bahkan, bisa juga makin besar pada Pilkada 2020 maupun Pilpres 2024," tuturnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia
Category
Nasional

Berita Terkait: