Pantau Flash
Kematian Babi Akibat Virus ASF di NTT Mencapai 22.000 Ekor
Rakyat Rusia Setuju Presiden Vladimir Putin Berkuasa hingga 2036
Bansos Rp300 Ribu Hanya Dibagikan Sebulan Sekali Mulai Juli untuk Warga DKI
Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Tembus 60.000 per 3 Juli
Presiden Jokowi Bersyukur Status Indonesia Naik Menengah ke Atas

Komisi I DPR RI Tekankan Pentingnya Riset dalam Industri Pertahanan

Komisi I DPR RI Tekankan Pentingnya Riset dalam Industri Pertahanan Gedung DPR (Foto: Pantau.com/Yusuf Fadillah)

Pantau.com - Komisi I DPR RI menekankan tentang pentingnya riset dan pengembangan dalam mengelola industri pertahanan dalam negeri.

"Paradigmanya harus holistik dan integratif, tidak bisa parsial lagi. Jika tidak, kita akan terus tertinggal, hanya menjadi pembeli, paling jauh menjadi pembuat, tanpa skema industri yang memadai. Karena itu, keseriusan kita pada riset dan development saya kira bisa menjadi awalannya," kata anggota Komisi I DPR RI Willy Aditya, saat melakukan kunjungan kerja di PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Jumat (15/11/2019).

Baca juga: Komisi I DPR Minta Anggaran Pertahanan Tak Dimaknai Alutsista Belaka

Menurutnya, industri pertahanan nasional membutuhkan paradigma baru dan tidak bisa hanya berkutat dalam urusan pemenuhan kebutuhan pertahanan semata, namun harus mulai masuk ke tahap yang lebih strategis.

Menurut Willy, pengembangan industri pertahanan bisa dimulai dari membangun kemampuan SDM, penguasaan teknologi, sehingga memproduksi senjata, kendaraan, dan alat bisa dilakukan secara mandiri. "Sebab jika kita tidak mengambil langkah untuk memulai, maka selamanya kita tidak akan punya nilai tawar terhadap negara lain," kata politisi Partai NasDem ini.

Ia menjelaskan, kekuatan pertahanan negara-negara di dunia saat ini tidak sekadar didukung oleh "man power" atau personel militer aktif yang besar secara kuantitas, namun ketersediaan dan kemampuan teknologi yang canggih.

"Nah, salah satu mekanisme penguasaan teknologi pertahanan ini tentunya adalah melalui riset yang komprehensif," ujar Willy.

Riset yang komprehensif, ujar dia, adalah riset yang dilakukan dalam rangka mengembangkan industri pertahanan yang integratif. Artinya, industri pertahanan nasional tidak hanya bertumpu pada sektor manufaktur dalam hal ini PT Pindad.

Namun, kata dia, juga harus terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya, seperti industri penerbangan, telekomunikasi, industri kapal, hingga industri pengembangan teknologi nuklir.

"Dengan skema yang demikian, industri pertahanan kita menjadi integratif. Integratif baik dalam skema industrinya, terlebih lagi dalam tujuan nasionalnya. Jadi sektor telekomunikasi, penerbangan, laut, dan sektor-sektor terkait lainnya, disatukan oleh kepentingan nasional. Jika ini terjadi, saya kira kita bisa menjadi negara adidaya ketiga," katanya pula.

Baca juga: Tegas, DPR Minta Menhan Prabowo Serius Atasi Masalah di Papua

Ia menambahkan, untuk menuju ke arah sana, memang diperlukan upaya lebih. Tidak hanya payung hukum yang belum ada, tetapi kesadaran semua pihak terkait juga menjadi sangat penting.

"Saya berharap kesadaran ini tidak hanya ada dalam kepala saya, melainkan juga teman-teman yang lain, sehingga dalam upaya merealisasikannya tidak terlalu sulit. Saya berharap ini bukan hanya mimpi saya seorang," tandasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: