Pantau Flash
Rekor Lagi! Kasus COVID-19 di Indonesia Melonjak Naik 8.369 Hari Ini
Lemhannas: Benny Wenda Tidak Punya Kewenangan untuk Deklarasi Papua Barat
Ditangkap Bareskrim di Bogor, Ustadz Maaher Jadi Tersangka Kasus UU ITE
Dari Penggeledahan Rumah Dinas Edhy Prabowo, KPK Temukan Uang Rp4 Miliar
Positif COVID-19, Kasudin Pendidikan Jaktim Meninggal Dunia

KPU: 77 Persen Paslon Masih Gunakan Kampanye Tatap Muka

KPU: 77 Persen Paslon Masih Gunakan Kampanye Tatap Muka Ilustrasi Pilkada di tengah pandemi. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Komisi Pemilihan Umum mengingatkan rendahnya penggunaan media dalam jaringan (online) sebagai metode kampanye Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020 dapat menjadi evaluasi bersama.

Pelaksana harian Ketua KPU RI Ilham Saputra mengatakan dari laporan yang diterima hanya 23 persen pasangan calon (paslon) yang menggunakan media online atau media sosial untuk berkampanye, dan 77 persen pasangan calon masih menggunakan pertemuan tatap muka.

"77 persen paslon masih menggunakan cara-cara lama dengan pertemuan langsung tatap muka. Nah ini tentu saja menjadi evaluasi kita bersama kampanye daring ini masih dipertanyakan efektivitas-nya," ucap Ilham di Jakarta, Rabu (21/10/2020).

Baca juga: Puan Maharani: Pilkada Serentak Ditunda Perlambat Pemda Tangani COVID-19

Ilham menyampaikan bahwa kemungkinan metode kampanye online terutama jarang digunakan oleh pasangan calon oleh karena beberapa alasan. "Yang metode daring, bukan media sosial, kalau media sosial sudah dilakukan sejak media sosial marak di Indonesia, tapi metode daring masih jarang digunakan," ungkap-nya.

Kemungkinan alasan tidak digunakannya kampanye online kata dia bisa saja karena dengan belum familiar-nya masyarakat di daerah tertentu untuk menggunakan atau mengikuti kampanye tersebut. Kemudian, kata Ilham hai itu juga disebabkan karena sebagai pengalaman baru bagi pasangan calon untuk menggunakan media daring dalam berkampanye.

"Nah kemudian mungkin pengalaman-pengalaman pilkada sebelumnya juga ini masih melakukan kampanye yang diatur dalam undang-undang 10 tahun 2016 atau undang-undang pilkada, ada bazar rapat umum, sehingga masyarakat langsung tahu siapa calonnya," ujarnya.

Baca juga: 5 'Tuhan' Tersebar di Jember Jawa Timur

Efek dari rapat umum, dan pertemuan tatap muka secara fisik lainnya juga masih diyakini oleh peserta pilkada lebih tinggi pengaruhnya dibandingkan bertatap muka lewat online.

"Sehingga kemudian ketika mereka melakukan atau kita minta mereka melakukan media daring dalam berkampanye, mungkin salah satunya (tidak direspon) karena ada keraguan dalam efektivitas metode kampanye menggunakan media daring," tutur Ilham.

Ilham mengatakan, KPU sebagai penyelenggara pemilu tetap terus mendorong peserta pilkada menggunakan media kampanye dalam jaringan yang lebih aman dari potensi penyebaran COVID-19. "Tentu ini kami akan juga mengevaluasi, kami akan melakukan evaluasi mingguan terhadap pelaksanaan kampanye ini, karena memang kita dalam PKPU 13 mengutamakan menggunakan media daring," ujarnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: