Kurir Kepercayaan Setnov Beberkan Aliran Dana e-KTP

Kurir Setya Novanto bernama Abdullah. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)Kurir Setya Novanto bernama Abdullah. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com – Kurir kepercayaan Setya Novanto bernama Abdullah membeberkan aliran uang mantan Ketua DPR yang diduga hasil korupsi e-KTP.  


Dalam kesaksiannya di persidangan, Abdullah membenarkan dirinya sering kali ditugaskan untuk mentransfer uang milik pria yang akrab disapa Setnov. Kemudian juga sering memakai rekening atas namanya dengan alasan demi mempermudah tugasnya.


“Uang Pak Novanto. Kan Pak Novanto suka suruh transfer sana-sini, disana suka ada sisanya Rp200 jutaan, daripada mondar mandir saya simpan aja di rekening saya, demi mempermudah kerjaan saya aja,” ujar Abdullah dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (15/2/2018).


Jaksa KPK Abdul Basir lantas mencecar Abdullah tentang dirinya yang memiliki banyak rekening di berbagai bank, termasuk rekening dolar. Setelah dicecar pertanyaan, Abdullah kemudian mengakui bahwa dirinya kerap mentransfer sejumlah uang ke luar negeri.


“Siapa yang suruh buka rekening dollar?,” tanya Basir.


“Inisiatif saya,” sahut Abdullah“Amerika, ada tranfer kesana?,” cecar jaksa lagi.


“Ada,” jelas Abdullah.


Kesaksian Abdullah dianggap penting, lantaran ia adalah salah satu orang kepercayaan Setya Novanto untuk melakukan berbagai transfer dana ke berbagai pihak. Bahkan, Abdullah juga tak jarang bertugas mencairkan uang di PT Murakabi.


Abdullah sendiri diketahui, telah bekerja dengan mantan ketua DPR itu sejak tahun 2000 hingga Januari 2018 lalu. Yang artinya, selama proyek tender e-KTP pada tahun 2009 hingga 2010, Abdullah ikut membantu Setnov dalam melakukan perpindahan uang.


Tak hanya Abdullah, dalam persidangan Jaksa juga terlihat mencoba mengkonfrontir peran Kartika Wulansari, sekretaris Setnov yang juga sering diberi tugas yang sama dengan Abdullah. Ada yang berbeda saat Abdullah memberikan keterangan tentang lalu lintas uang, Setnov terlihat berbicara serius dengan pengacaranya Maqdir Ismail, dan sesekali menengok Abdullah yang sedang berbicara.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta