Pantau Flash
Kasus Positif Virus Korona di RI Bertambah 11.788, Total Jadi 989.262
Mengejutkan! Ternyata Ini Rahasia Jitu yang Membuat Baduy Nihil Kasus Korona
Cerita Perajin Tenun di Kalbar Tetap Bertahan di Tengah Pandemi
UFC: Conor McGregor Tersungkur KO pada Ronde Kedua!
Pelatih Persib Berharap Komposisi Pemain Asing Tak Berubah

Masih Ingat Gempa Banten Awal Agustus Lalu? Kata BMKG Itu Pertanda Buruk

Headline
Masih Ingat Gempa Banten Awal Agustus Lalu? Kata BMKG Itu Pertanda Buruk Ilustrasi gempa. (Foto: Pantau.com/Ferry Heriyadi)

Pantau.com - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan gempa yang mengguncang Banten bagian Selatan pada awal Agustus 2019 merupakan alarm bahwa di bagian Selatan Jawa terdapat zona gempa yang aktif.

"Sudah ada catatan beberapa kali gempa di bagian Selatan Jawa. Artinya sangat mungkin ke depan terjadi gempa lagi," kata Daryono dalam jumpa pers yang diadakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Baca juga: 7 Gempa Bumi yang Pernah Guncang Kaltim, Provinsi Calon Ibu Kota Baru RI

Karena itu, Daryono mengatakan masyarakat yang tinggal di bagian Selatan Jawa harus siap menghadapi gempa dan jangan mengabaikan peringatan yang sudah diberikan alarm.

Masyarakat yang tinggal di wilayah yang rawan diguncang gempa harus membangun rumah yang tahan gempa dan kuat agar terlindung ketika terjadi gempa.

"Harus siap siaga terhadap tsunami juga. Kuncinya adalah membuat tata ruang yang aman. Jangan membangun usaha atau rumah di pantai yang memiliki titik-titik gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami," tuturnya.

Daryono mengatakan para pakar harus terus mempelajari kebencanaan yang ada di Indonesia. Bangsa Indonesia harus waspada karena tinggal di wilayah yang rawan bencana, tetapi tidak perlu cemas berlebihan.

"Jangan percaya isu-isu yang beredar di masyarakat. Kalau BMKG tidak menginstruksikan mengungsi, tidak perlu mengungsi, kecuali memang terasa gempa besar di pantai," katanya.

Baca juga: 22 Rumah di Jawa Barat Terdampak Gempa Banten

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Bernadus Wisnu Widjaja mengatakan korban jiwa yang tinggi saat terjadi gempa biasanya bukan disebabkan gempa itu sendiri melainkan bangunan yang tidak tahan gempa.

"Kebanyakan korban jiwa meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan karena diguncang gempa. Karena itu, membangun rumah yang tahan gempa di wilayah yang rawan gempa sangat penting," katanya.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Kontributor - TIH

Berita Terkait: