Menag Beri Sanksi Tegas Travel Nakal terkait 46 Jamaah Haji yang Dideportasi

Headline
Ilustrasi ibadah haji di depan ka'bah. (Foto: Pixabay)Ilustrasi ibadah haji di depan ka'bah. (Foto: Pixabay)

Pantau – Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas mengatakan akan memberikan sanksi paling tegas kepada travel yang tidak menyelenggarakan layanan haji sesuai peraturan.

“Kita akan berikan sanksi yang paling tegas karena tidak boleh mempermainkan nasib orang, mempermainkan keinginan ibadah orang itu dosa besar,” kata Menag di Mekkah, Senin (4/7/2022).

Pernyataan Menag tersebut menanggapi kasus terkait dipulangkannya 46 jamaah calon haji dengan visa mujamalah.

Sebelumnya ada informasi tentang puluhan calon haji tertahan di Bandara Internasional King Abdul Azis Jeddah pada Kamis (30/6/2022).

Mereka sebelumnya menumpang pesawat Garuda Indonesia dan tiba di Jeddah pada Kamis (30/6/2022) pukul 23.20 Waktu Arab Saudi.

Perusahaan yang memberangkatkan jamaah furoda (non-kuota) tidak resmi itu adalah PT Alfatih Indonesia Travel. Perusahaan ini beralamat di Bandung, Jawa Barat, tidak terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag).

Sebelumnya Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI Hilman Latief mengatakan sebanyak 46 calon haji furoda yang menggunakan visa tidak resmi dan tertahan di Jeddah, sudah dipulangkan ke Tanah Air.

“Ada jamaah yang kemarin sempat terdampar di Jeddah, kondisinya sehat-sehat mereka sudah kembali ke Indonesia,” kata Hilman.

Hilman mengatakan 46 orang tersebut sudah mengenakan pakaian ihram namun tidak melalui Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK), bukan travel yang biasa memberangkatkan jamaah haji khusus.

Hilman mengingatkan masyarakat agar memilih perusahaan yang memberangkatkan jamaah haji harus terdaftar secara resmi.

Mereka tertahan oleh petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan sejumlah pegawai KJRI Jeddah karena dari pengecekan, identitas tidak terdeteksi dan tidak cocok. Mereka dinyatakan tidak bisa masuk ke Arab Saudi.

Meski telah mengantongi visa, namun visa mereka bukan berasal dari Indonesia, melainkan Malaysia dan Singapura.

Dengan dasar itu, maka ketika menjalani pemeriksaan di imigrasi bandara, otomatis mereka tidak lolos. Sebab data di paspor diketahui berbeda dengan data di visa.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Desi Wahyuni
Penulis
Desi Wahyuni