Pantau Flash
Erick Thohir Ganti Dirut PT Pembangunan Perumahan
Doni Monardo Sebut Akan Ada Standarisasi Harga Tes PCR
Gempa M 7,1 Maluku Utara Akibat Subduksi Lempeng Laut Filipina
Seorang Pemain Tottenham Hotspur Positif Terinfeksi COVID-19
Pemerintah Segera Bayar Dana Kompensasi kepada PLN dan Pertamina

Moeldoko Ungkap Perbedaan Kebakaran Hutan yang Dulu dan Sekarang

Headline
Moeldoko Ungkap Perbedaan Kebakaran Hutan yang Dulu dan Sekarang Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko (Foto: Antara)

Pantau.com - Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Moeldoko mengungkapkan perbedaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beberapa tahun lalu dengan saat ini.

"Kalau diperbandingkan dengan yang lalu, dulu padat asapnya tapi kurang titik panasnya, sekarang ini titiknya banyak tapi kepadatannya kurang," kata Moeldoko di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Baca juga: Media Asing: Indonesia Belum Punya Solusi Jelas Cegah Siklus Karhutla

Ia menyebutkan banyaknya titik panas itulah yang menimbulkan masalah karena memerlukan kekuatan besar karena terpencar-pencar.

Dalam kesempatan tersebut, Moeldoko menanggapi adanya fakta bahwa karhutla di beberapa daerah sudah mendekati lahan dan tempat tinggal penduduk.

"Sebetulnya kita sudah melakukan pengerahan yang cukup besar. Kita juga mengambil langkah-langkah law enforcement. Saya sudah bicara lanjang lebar dengan Menteri LHK," katanya.

Ia juga menyebutkan pemerintah melakukan tindakan keras terhadap para pelanggar penyebab karhutla apakah itu korporasi maupun perorangan.

"Memang tidak mudah karena sumber titik panasnya itu banyak," katanya.

Baca juga: Polisi Tetapkan Tersangka Karhutla, 4 Hari Usai Jokowi Ancam Copot Jenderal

Ia menyebutkan sejauh ini personel untuk mengatasi karhutla juga sudah disebar di seluruh kawasan terlanda karhutla.

"Sudah pasti Panglima TNI dan Kapolri dan pihak lain juga BRG sudah mengambil langkah-langkah mengatasi situasi saat ini," katanya.

Moeldoko menilai kasus karhutla yang muncul belakangan ini disebabkan faktor gejala alam, bukan disengaja.

"Ada elnino yang berlangsung cukup panjang sehingga yang terjadi sekarang karena kondisi alam diperburuk dengan perilaku manusia yang menyebabkan karhutla," katanya.


Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: