Pantau Flash
Ratusan Driver Ojol Geruduk Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto-Slipi Ditutup
Bank Indonesia: Uang Beredar di Januari 2020 Meningkat 7,1 Persen
Ada 200 Agen Umrah yang 'Menjerit' Akibat Kebijakan Arab Saudi
Virus Korona Telah Sampai Afrika, Nigeria Konfirmasi Korban Pertama
Perusahaan Asuransi Mendata Klaim Banjir Jakarta

MRT Bayar Listrik Rp12 Miliar Setiap Bulan

Headline
MRT Bayar Listrik Rp12 Miliar Setiap Bulan Penampakan dari transportasi umum Moda Raya Terpadu (MRT) di bulan Maret 2019 (Foto: MRT Jakarta)

Pantau.com - PT MRT Jakarta mengeluarkan anggaran sekitar Rp12 miliar per bulan untuk membayar tagihan listrik kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) guna menjamin pelayanan serta operasional tak terganggu.

“Beban kita untuk listrik cukup tinggi karena sebulan sekitar Rp12 miliar,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi MRT Jakarta Tuhiyat di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Tuhiyat mengatakan pihaknya telah meneken kontrak dengan PLN untuk penyediaan listrik tingkat silver class atau diprioritaskan dibanding layanan untuk area komersial lainnya. “Kontrak kita dengan PLN kalau di UU BUMN itu beda, murah, ini enggak. Justru lebih mahal dari commercial biasa karena kita priority, yang lain mati (listrik) kita enggak, kecuali blackout (mati listrik total) seperti kemarin,” katanya.

Baca juga: MRT Luncurkan Kartu Multi Trip Ticket, Apa Sih Untungnya?

Dia mengatakan ketersediaan listrik di MRT Jakarta ditopang oleh dua gardu PLN.

“Meskipun mati, kita hidupnya lebih cepat lima jam setelahnya, yang lain baru besoknya,” ujarnya.

Tuhiyat menuturkan selain listrik (10 persen), komponen beban terbesar di antaranya yang pertama adalah penyusutan aset (42 persen), kemudian gaji dan tunjangan karyawan (22 persen), upah pegawai kontrak atau outsourching (11 persen), jasa konsultan dan asuransi (tiga persen), sewa kantor dan kendaraan (dua persen) dan pelatihan dan pengembangan (satu persen).

Sebelumnya, Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta Muhammad Effendi mengaku masih mempertimbangkan untuk membangun genset demi menopang pengoperasian kereta Ratangga MRT karena pihaknya telah berkontrak penyediaan listrik premium dengan PLN.

Selain itu, lanjut dia, mati listrik total terjadi hanya dalam jangka waktu yang lama, sehingga dikhawatirkan genset tersebut justru akan menganggur sementara investasinya cukup tinggi.

“Listrik PLN ini matinya sembilan tahun sekali, di 2009 dan berapa tahun belakangan, bayangkan kalau bangun genset dan enggak dipakai-pakai sampai berapa tahun,” ujarnya.

Baca juga: MRT Targetkan Angkut 100.000 Penumpang per Hari

Pasokan listrik MRT Jakarta bersumber dari dua subsistem 150kV PLN yang berbeda, yaitu Subsistem Gandul-Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah dan Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW.

Adapun, genset yang dimiliki MRT Jakarta saat ini adalah untuk pasokan listrik untuk kebutuhan keselamatan dan evakuasi di fasilitas stasiun dan di terowongan, bukan untuk pengoperasian kereta.

Kapasitas tenaga listrik cadangan (back up power) MRT Jakarta tersebut dinilai sudah cukup dan berfungsi dengan baik pada saat pasokan listrik terputus, karena itu pada saat listrik terputus, evakuasi dapat dilakukan dengan aman.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati
Category
Nasional

Berita Terkait: