Pantau Flash
Positif COVID-19 di DKI Jakarta Bertambah Terus hingga 7.153 Kasus
Kasus Positif COVID-19 RI 25.773, Nihil Kasus Baru di 10 Provinsi
Desak Presiden Jokowi Mundur, Ruslan Buton Dibawa ke Jakarta
AS Akhiri Hubungan dengan WHO, Trump: Mereka Dikendalikan China
Ada 4.599 Kendaraan Menuju Jakarta Diputarbalik

Nasib Pengungsi Timor Timur di Indonesia Setelah 20 Tahun Referendum

Headline
Nasib Pengungsi Timor Timur di Indonesia Setelah 20 Tahun Referendum 20 tahun silam, pada 30 Agustus 1999, masyarakat Timor Timur mengadakan referendum. (Foto: via ABC News)

Pantau.com - Konflik Timor Timur telah memaksa ribuan warga meninggalkan kampung halaman dan harta benda mereka seluruhnya demi setia untuk pindah ke wilayah Indonesia menyusul referendum di tahun 1999. Namun kesetiaan mereka bagai bertepuk sebelah tangan, karena di Indonesia mereka ditelantarkan.

Warga eks pengungsi Tim-Tim:

Muhammad Zainuddin mengungsi ke Naelbaki di NTT bersama orang tuanya dari kota Dili pada 1999 ketika berusia 5 tahun. Ia juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap warga pengungsi eks Timor Timur. UNHCR menyebutkan sekitar 250.000 warga Timor Timur mengungsi ke Propinsi NTT di tahun 1999.

Dua puluh tahun terentang, tidak mengurangi sedikitpun kenangan Muhammad Zainuddin (27) mengenai hari terakhir dirinya menjejakan kaki di tanah kelahirannya Dili pada 1999 lalu, ketika dia masih berusia 5 tahun.

"Saya ingat digendong sama mama, kami tidak bawa apa-apa, hanya berkas-berkas penting saja, hari itu bapak menaikan kami ke truk menuju ke pengungsian di Naelbaki, dia tidak ikut, kami baru bertemu di tempat pengungsian. "

"Sampai di pengungsian Naelbaki, ibu berebut tempat dengan pengungsi lain," tutur Muhammad Zainuddin.

Melansir ABC News, Kamis (29/8/2019), sejak eksodus ke Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah terdekat dengan Timor Timur (Timtim) ketika itu, Zainuddin dan ibunya sempat pindah beberapa kali ke pengungsian lain, sampai tahun 2005. Ia dan keluarganya akhirnya menetap di Panti Asuhan Asuwain Timor yang didirikan oleh ayahnya Ali Bin Don Duro untuk menampung anak-anak eks pengungsi Timor Timur yang berlokasi di Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Sejak tahun 2000, Almarhum Ali Bin Don Duro, telah membawa lebih dari 500 anak-anak yatim dan dhuafa eks pengungsi keluar dari kamp pengungsian untuk dimukimkan dan disekolahkan di sejumlah pesantren dan panti asuhan di berbagai daerah, seperti Padang, Madura, Brebes dan Jawa Barat.

Mantan penyiar RRI Dili itu, wafat pada 2018 lalu dan dimakamkan dihalaman depan panti asuhan miliknya. Kini panti asuhan Asuwain yang bermakna pemberani dalam Bahasa tetun dititipkan kepada puteranya Muhammad Zainuddin Bin Ali Duro.


Muhammad Zainuddin adalah putera ketiga dari Ali Bin Don Duro, pendiri panti asuhan anak-anak pengungsi eks Timor Timur Asuwain. (Foto: ABC News/Iffah Nur Arifah)

Di panti asuhan inilah sekarang Muhammad Zainuddin serta Ibunya, Aida Ello Dos Ramedios tinggal bersama sekitar 70 orang anak-anak eks pengungsi Timor Timur (Timtim), mualaf dan juga anak keluarga tidak mampu asal Timor.

Sore itu ketika berbincang dengan wartawan ABC Indonesia, Iffah Nur Arifah di halaman Panti Asuhan Asuwain, Zainuddin yang berpeci putih mengaku meski telah dua dekade berlalu, hingga saat ini ia dan anak-anak Timtim yang tinggal bersamanya masih fasih berbahasa Tetun.

"Semua kami disini masih fasih berbahasa Tetun, kami biasa menggunakannya sehari-hari, kami juga masih sering menyanyikan lagu kesukaan kami dalam Bahasa Tetun, O Doben, kekasihku," tuturnya.

Luka sosial pasca konflik belum pulih sepenuhnya

Bagi Zainuddin, kenangan mengenai Timor Timur, memang tidak pernah luput diingatan, dan tampaknya itu menjadi satu-satunya hal yang masih mentautkan dirinya dengan tanah kelahirannya yang kini telah berganti nama menjadi East Timor atau Timor Leste.

Zainuddin mengaku meski rindu ingin berziarah ke makam kakeknya di Kota Komoro, Dili, namun hingga kini ia belum pernah lagi menjejakkan kakinya ke kota itu.

Menurutnya konflik bersenjata berkepanjangan yang berujung dengan lepasnya provinsi ke-27 itu dari Indonesia lewat referendum, telah mengubah tatanan dan relasi sosial di masyarakat dari kedua kubu.

"Semua sudah tidak sama lagi, kami merasa sudah ada tautan lagi dan suasana hati dengan kerabat yang berbeda pilihan dengan keluarga ayah juga masih terasa."

"Beberapa dari kami juga masih merasa tidak aman, kami masih dikenali dari marga kami sebagai orang yang pro integrasi," katanya.

"Adik ayah saya pernah kembali ke Timor Leste pada 2007, karena ada proyek, tapi rupanya dia masih dikenali, mungkin mereka melihat marganya, jadi dia diancam kalau tidak pergi ya 'dibungkus' disitu. Jadi ya sudah dia pergi hanya dengan baju di badan. Mulai dari mendapat kabar itu, akhirnya kami jadi segan mau pulang," katanya.


Muhammad Zainuddin bersama ibunda, Aida Ello Dos Ramedios. (Foto: ABC News/Iffah Nur Arifah)

Meski demikian, Zainuddin mengaku masih terus mengikuti perkembangan situasi di Timor Leste baik dari keluarga maupun sahabatnya di pengungsian yang berkunjung ke Timor Leste pasca merdeka. Dan ia menyimpulkan meski telah menjadi negara yang terpisah dari Indonesia, Timor Leste belum sepenuhnya menjadi negara yang merdeka.

"Saya berharap Timor Leste bisa menjadi lebih baik, menjadi negara yang mampu berdiri independent sebenar-benarnya. Jangan menumpang ke sana kesini. "

"Bagi saya, hingga kini Timor Leste belum bisa berdiri sendiri. Mereka belum punya mata uang sendiri, masih pakai dollar Amerika, kalau saya piker, perkembangan yang ada disana sekarang itu masih bekas Indonesia.

"Kecuali populasi warganya memang bertambah ya, dan itu wajar saja, tapi yang lainnya tidak, kalau mereka mengaku lebih maju sekarang, ya itu arogansi saja, itulah politik," katanya.

Pengungsi tidak diperhatikan


Muhammad Zainuddin kini menjadi pengurus Panti Asuhan Asuwain Timor yang menampung 70 orang anak eks pengungsi Tim-Tim, muallaf dan anak dari keluarga muslim tidak mampu di NTT dan NTB. (Foto: ABC News/Iffah Nur Arifah)

Sebagai warga yang memilih tetap bersama Indonesia, Zainuddin mengaku hidupnya lebih beruntung dibandingkan dengan ribuan warga eks pengungsi Timtim lainnya.

Tidak seperti banyak warga eks pengungsi Timor Timur yang hidup menumpang di tanah orang. Ia beruntung bisa tinggal menetap diatas tanah wakaf yang diberikan kepada almarhum ayahnya untuk mengurus anak-anak eks pengungsi maupun mualaf dan dhuafa asal Timtim. Dan setiap tahun dia juga masih bisa mengantarkan bantuan untuk kerabatnya yang tinggal di sejumlah titik pengungsian di NTT dan NTB.

Minimnya perhatian dan bantuan menjadi keluhan yang biasa didengarkannya. "Terakhir saya pulang ke kamp pengungsi di Noelbaki tahun 2017 untuk mengantarkan bantuan, banyak yang mengaku menyesal telah memilih ikut Indonesia karena merasa tidak dihargai dan tidak diperhatikan."

"Tidak ada perubahan dalam hidup mereka sejak mengungsi. Perhatian juga tidak ada, terakhir ada bantuan 2016, setelah itu kamp pengungsi tidak ada lagi karena sudah ditutup."

"Warga pengungsi hidup di tanah orang menumpang. Mereka menjadi buruh tani, menjual batu karang, buruh bangunan, jadi ojek, jadi apa sajalah untuk bertahan hidup,"

Zainuddin mengaku tidak sedikit dari teman-teman kecilnya di pengungsian telah memilih kembali ke Timor Leste untuk mengadu nasib disana. "Dari segi pendapatan mereka yang kerja di Timor Leste memang lebih baik, karena upah disana pakai dollar."

"Jadi lebih besar, jaga toko saja disana sudah cukup. Jadi banyak juga yang kembali. Apalagi yang masih punya sanak famili disana, itu mudah tinggal ikut mereka. Ada juga yang diajak ke Portugal," ungkapnya.


Sutrisno Susanto atau Ano Gomez mengungsi dari Dili ke Noelbaki pasca perang konflik bersenjata di Timor Timur pada 1999 ketika berusia 7 tahun. (Foto: Pribadi via ABC News)

Pandangan serupa juga diungkapkan Sutrisno Susanto, mahasiswa perguruan swasta di Depok, Jawa Barat ini mengaku akhir tahun lalu mengunjungi kembali kamp pengungsi eks Timtim di Naelbaki, Kupang, NTT. Pada tahun 1999, ia sempat tinggal di kamp itu sebelum diajak mengungsi ke Jakarta oleh pendiri panti asuhan Asuwain Timor, Almarhum Ali Bin Don Duro. Menurutnya, tidak banyak perubahan berarti dirasakan warga pengungsi selama 20 tahun terakhir.

"Saya pulang ke Naelbaki, karena ada saudara yang menikah. Mereka masih tinggal di kamp pengungsian.'

"Kondisi mereka masih jauh dari sejahtera, mereka bertahan di rumah-rumah dilahan pengungsian, dindingnya dari papan kayu, tidak ada fasilitas, listrik saja kami masih menyantol dari rumah warga sekitar, sudah 20 tahun mereka hidup seperti itu," ungkapnya.

Pria yang dipanggil dengan marga khas Timor, Ano Gomez ini mengatakan kerabatnya kini telah berdamai dengan keadaan, meski awalnya merasa kecewa karena tidak diperhatikan pemerintah.

Namun demikian sebagai warga pendatang mereka masih dihantui rasa was-was atas kepastian rumah tinggal mereka.

"Yang mereka takutkan suatu saat pemerintah akan mengambil kembali lahan yang ditempati pengungsi, kalau begitu mereka mau tinggal dimana, karena mereka tidak punya tempat sama sekali." Ungkapnya.

Pengungsi eks Timor Timur


Warga pengungsi eks Timor Timur berunjuk rasa di depan kantor Gubernur NTT meminta perhatian pemerintah pusat bagi warga eks Tim-Tim yang telah memilih menjadi warga NKRI pada September 2017. 

Baik Zainuddin maupun Ano berhadap ke depan pemerintah Indonesia bisa memberikan perhatian lebih kepada warga pengungsi eks Tim-Tim yang kini banyak bermukim di NTT dan NTB.

"Semoga tidak ada penggusuran tiba-tiba dan pemerintah masih akan memperhatikan pengungsi eks Timtim. Pemerintah mengembangkan pariwisata di NTT, tapi tidak mensejahterakan warga pengungsi, mereka seperti tidak dianggap sekali dan seperti bukan bagian dari Indonesia," keluh Ano Gomez.

"Saya heran dengan pemerintah Indonesia, seharusnya yang diperhatikan betul-betul itu mereka yang di kamp pengungsi eks timtim, karena mereka rela bertahan disana yang keras dan memprihatinkan itu karena setia dengan merah putih, jadi kalau ada yang dibilang berjiwa nasionalis patriotis itu adalah mereka yang mengungsi. Jadi meraka harusnya lebih diperhatikan.

"Tapi ini terbalik, justru yang lebih diperhatikan, anak-anak Timor Leste. Mereka disini dibiayai, dikasih asrama, pendidikan dijamin, sementara warga pengungsi eks timtim kondisinya disana masyaalloh...sangat prihatin."

Meski demikian, Muhammad Zainuddin mengaku tidak pernah menyesal dengan pilihannya untuk tetap menjadi warga Indonesia.

"Saya pribadi tidak menyesal, itu bagian dari pilihan. Saya selalu ingat pesan ayah saya, sekali merah putih tetap merah putih!" tegasnya.

Referendum Timor Timur 1999


20 tahun silam, pada 30 Agustus 1999, masyarakat Timor Timur mengadakan referendum. Melalui mekanisme voting, masyarakat di provinsi ke-27 NKRI ketika itu harus memilih dua opsi menerima otonomi khusus Timor Timur sebagai bagian NKRI atau menolak otonomi khusus memisahkan diri dari Indonesia. (Foto: NY Times)

Data UNHCR menyebutkan sekitar 250.000 warga Timor Timur mengungsi ke Propinsi NTT, ketika wilayah itu mengalami gejolak politik pasca-jajak pendapat 30 Agustus 1999.

Dalam jajak pendapat tersebut, 94.388 orang atau 21,5 persen dari warga Timor Timur memilih untuk tetap menjadi bagian dari Indonesia. Sementara 344.580 orang atau 78,5 persen memilih untuk merdeka dari Indonesia.

Banyak warga sudah pulang setelah ditawari repatriasi. Tetapi banyak pula yang memilih untuk tetap tinggal di Propinsi NTT.

Pemerintah Indonesia pada masa kepemimpinan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menggelontorkan dana pemukiman kembali namun hingga kini masih banyak warga eks pengungsi yang hidup dalam kemiskinan dan tida memiliki tanah,

Kabar terakhir pada pertengahan Juni 2019 lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan mengumumkan akan membangun rumah untuk warga eks Timor - Timur (Timtim) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui program Satu Juta Rumah dan juga Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk membantu renovasi rumah warga agar layak huni.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: