Parah! Modus Rukiah Gak Tahunya Marbot Masjid Cabul

Headline
Ilustrasi anak (Foto: Pixabay)Ilustrasi anak (Foto: Pixabay)

Pantau – Polisi menangkap seorang marbot masjid di Sukmajaya, Depok, Jawa Barat karena diduga cabul. Pria berinisial AS (47) yang mencabuli bocah 13 tahun yang bermodus terapi rukiah.

Bocah tersebut merasa risih karena membuka celana korban, hingga akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke orang tuanya dan berlanjut ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Yogen Heroes Baruno mengatakan pelaku dalam aksinya bermodus merukiah korban. Pelaku mengajak korban ke ruang istirahat kemudian melakukan pencabulan.

“Terlapor mengajak korban ke salah satu ruangan masjid tersebut yang biasa digunakan untuk beristirahat oleh terlapor. Kemudian terlapor membuka celana korban, kemudian mengelus-elus dan melakukan tindakan pencabulan,” kata Yogen dalam keterangan, dikutip Minggu (26/6/2022).

Pelaku kini sudah diamankan di kantor Polisi. Yogen mengatakan pelaku bekerja sebagai marbot selama 7 bulan.

Yogen mengatakan aksi bejat pelaku diketahui oleh orang tua korban. Korban melapor ke orang tuanya dan kemudian dilakukan penangkapan.

“Korban melapor kepada orang tuanya sehingga pelaku diamankan pada saat tersebut. Jadi pelaku ini orang Sukabumi, kemudian mendaftar di situ bertugas sebagai marbot sudah sekitar 7 bulan dia sebagai marbot di situ,” tandasnya.

Yogen menuturkan modus pelaku yakni berpura-pura merukiah korban. Dia menyebut korban pencabulan tiga orang anak.

“Jadi dia menganggap korban ini ada masalah, kemudian menawarkan mau rukiah dan dibawa ke mess (ruangannya). Dan ketika kami dalami ternyata ada dua korban lagi. Dari dua korban lainnya itu tapi tidak melaporkan. Jadi total korban sementara ada tiga, yang melapor baru satu,” ungkapnya.

Yogen mengatakan korban mengalami trauma. Untuk saat ini pelaku dijerat pasal 82 Undang Undang tentang Perlindungan Anak.

“Sementara karena korban trauma psikis, kalau visum fisiknya belum keluar. Tapi korban mengalami trauma psikis dan hasil pemeriksaan psikologi. Kalau menurut pengakuan korban baru sekali ini saja. (Dijerat) pasal 82 UU Perlindungan Anak,” katanya.

Tim Pantau
Editor
Desi Wahyuni
Penulis
Desi Wahyuni