Pantau Flash
Uji Klinis Fase 1 Vaksin Merah Putih Pertengahan 2021
PSSI Akan Gelar Kongres Tahunan Secara Tatap Muka Demi Hindari Gangguan Internet
Bupati Purwakarta Imbau Warganet Hati-hati dengan Akun Palsu yang Mencatut Namanya
Gunung Merapi Erupsi, Hujan Abu Guyur Sejumlah Wilayah di Boyolali
Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa di Sulbar Mencapai 105 Orang

Pemerintah... Warga Jambi Keluhkan Karhutla dan Kualitas Udara Malam Hari

Pemerintah... Warga Jambi Keluhkan Karhutla dan Kualitas Udara Malam Hari Warga Jambi keluhkan karhutla dan kualitas udara pada malam hari. (Foto: Antara/Muhamad Hanapi)

Pantau.com - Warga Jambi mengeluhkan kabut asap yang mencemari udara di Kota Jambi akibat Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama pencemaran kualitas udara pada malam hari.

"Saat ini kabut asap mulai terjadi lagi, meski sempat hujan namun kabut asap saat ini mulai pekat, sehingga kalau ingin keluar rumah harus pakai masker," kata Warga Kecamatan Bagan Pete, Kota Jambi Yesi di Jambi, Selasa (3/9/2019).

Selain kabut asap, cuaca panas yang ekstrem turut mengkhawatirkan kondisi kesehatan anaknya. Pasalnya anak Yesi yang bernama Aira yang kini berusia lima tahun terserang batuk dan pilek, sehingga untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh anaknya, yesi memberikan asupan vitamin terhadap anaknya.

Baca juga: Sebelum Pindahkan Ibu Kota, Karhutla di Kalimantan Jangan Dianggurin

Yesi berharap pemerintah mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang hampir terjadi dalam setiap harinya, terutama kepada tim satgas karhutla, baik tim satgas karhutla pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota.

Namun yesi lebih menekankan kepada pemilik lahan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat saat ini dalam keadaan musim kemarau yang sangat mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan. "Harapannya pemerintah mampu mengatasi karhutla yang terjadi, tapi kalau warga tidak membakar lahan tentu tidak terjadi kebakaran, jadi mohon lah pengertiannya kepada warga pemilik lahan itu untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar," kata Yesi.

Dia mengatakan saat ini membuka lahan dengan cara dibakar tersebut sudah dilarang. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuka lahan perkebunan selain dengan cara membakar, misalnya dengan memanfaatkan alat berat untuk membuka lahan perkebunan.

Selain itu, Yesi turut mengeluhkan kualitas air sumur di rumahnya. Meski sumur di rumahnya tidak kering, namun warna air sumur miliknya berubah menjadi kekuningan dan berbau busuk. Ia berharap turun hujan secepatnya, sehingga kabut asap yang terjadi dapat hilang dan air sumur miliknya kembali normal seperti biasanya.

"Harapannya kabut asapnya hilang, tapi setelah turun hujan, kebakaran masih terus terjadi," kata Yesi.

Baca juga: BMKG Sebut Ada 151 Titik Panas Karhutla di Kalimantan Barat

Selain Yesi, Ida warga Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi turut mengeluhkan kabut asap yang kembali terjadi di kota itu. Kini Ida membatasi aktifitas anaknya diluar rumah.

"Kabut asapnya kembali terjadi, anak saya sekarang saya larang untuk bermain di luar rumah, keluar rumah itu kalau ada kepentingan saja, dan kalau keluar harus pakai masker," kata Ida.

Meski demikian, terkadang anak-anak enggan memakai masker. Karena menurut mereka memakai masker membuat susah bernafas, karena anak-anak tersebut tidak terbiasa menggunakan masker.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: