Pantau Flash
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil
KPU dan Kemendagri Sedang Siapkan Protokol Kesehatan Tahapan Pilkada 2020

Pengamat: Kerusuhan di Papua Bukan karena Rasisme, tapi....

Headline
Pengamat: Kerusuhan di Papua Bukan karena Rasisme, tapi.... Kerusuhan Manokwari (Foto: Antara/Toyiban)

Pantau.com - Pengamat Sosial Budaya Agnes Setyowati, menganggap kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah Papua pada Senin kemarin justru bukan akibat rasisme.

Ia mengatakan, pengepungan mahasiswa Papua di Surabaya lebih disebabkan ulah keliru tindakan arogan segelintir oknum.

"Sejauh ini peristiwa tersebut tidak bisa dipahami sebagai bentuk rasisme yang dilakukan oleh warga di Provinsi Jawa Timur terhadap masyarakat Papua," kata Agnes.

Baca juga: Manokwari Memanas! Berikut 7 Fakta Tentang Kerusuhan di Papua

Ia menjelaskan, rasisme merupakan tindakan penguatan stereotip terhadap kelompok tertentu yang terorganisir. Sedangkan, menurut Agnes apa yang dialami oleh sejumlah mahasiswa Papua di Surabaya merupakan bentuk kesalahpahaman antar berbagai pihak.

Di samping itu, Agnes mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan teliti dalam menerima informasi yang beredar di media sosial.

Menurutnya, tidak mungkin ada pihak yang sengaja menyebarkan konten-konten terkait persekusi mahasiswa Papua di media sosial yang berpotensi memecah persatuan bangsa.

Baca juga: Polisi Duga Kericuhan di Fakfak Berkaitan dengan Manokwari dan Sorong

"Masyarakat harus terus mengedukasi diri dan bersikap lebih bijaksana dalam menerima informasi serta belajar menahan diri untuk tidak bersikap reaksioner terhadap hal-hal yang dapat memecah persatuan bangsa," kata Agnes.

Ia berharap, masyarakat terus membangun solidaritas dan kesadaran tentang kebhinekaan yang menjadi ciri khas sekaligus unsur terkuat bangsa Indonesia. Pasalnya, masuknya Papua sebagai bagian dari Indonesia sama halnya dengan provinsi lainnya yang perlu dijaga bersama.

"Masyarakat harus selalu membudayakan diri untuk menyadari bahwa keberagaman merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Alih-alih melihatnya sebagai bentuk perbedaan, kita harus menghargai segala bentuk perbedaan demi keutuhan dan persatuan bangsa," tuturnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: