Pantau Flash
Mantap! DKI Jakarta Catat Angka Kesembuhan Harian Covid-19 Tertinggi
Wagub DKI Jakarta Rangkul Ormas untuk Jaga Stabilitas Ibu Kota, Sebut Bentuk Kolaborasi dengan Pemerintah
Pemerintah Turunkan Harga PCR Rp275 Ribu, Langsung Berlaku Mulai Hari Ini
Ribuan Ormas di Jakarta Deklarasikan Diri untuk Amankan Ibu Kota pada Pemilu 2024
Sah! Harga PCR Resmi Turun Jadi Rp275 Ribu, di Luar Jawa-Bali Rp300 Ribu

Pengamat: NasDem Tidak Akan Terbuka Sampaikan Jadi Oposisi

Pengamat: NasDem Tidak Akan Terbuka Sampaikan Jadi Oposisi Ilustrasi (Foto: Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Seiring manuver politiknya, Partai NasDem dinilai tidak akan secara terbuka menyatakan keluar dari kekuasaan dan menjadi oposisi.

Menurut Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang, walaupun NasDem masih dalam koalisi pemerintah, partai yang dipimpin Surya Paloh itu akan menyampaikan kritik secara terbuka.

"Menurut saya, NasDem tidak secara terbuka menyatakan keluar dari kekuasaan, namun sikap politik terhadap pemerintah akan dilakukan secara terbuka. Surya Paloh secara tegas sudah menyatakan akan menjadi oposisi bagi pemerintah," katanya.

Baca juga: NasDem Gencar Bermanuver ke Elite, PDIP Pilih Manuver ke Rakyat

Meski berada dalam pemerintahan tetapi dalam negara dengan sistem presidensial, lanjut Atang, tidak ada oposisi ekstrim tapi oposisi loyal.

"Jadi NasDem mengambil sikap oposisi lebih sebagai alat kontrol bukan mosi," katanya.

Dia menambahkan, politik yang dibangun merupakan bentuk politik koalisi bukan oposisi.

Baca juga: NasDem Disebut Isyaratkan Dua Kaki di Tengah Gencarnya Bersafari Politik

Karena itu, anggota koalisi tidak kehilangan sikap kritisnya terhadap pemerintah, karena koalisi bersifat ad hoc bukan permanen.

Berbeda dengan sistem parlementer yang berlaku oposisi permanen katanya menjelaskan. 

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati

Berita Terkait: