Pantau Flash
Paus Fransiskus Soal George Floyd: Kita Tak Bisa Menutup Mata pada Rasisme
Presiden Jokowi Teken PP Tapera, Hippi: Pengusaha dan Pekerja Dibebani
Pemerintah Alokasi Rp4,967 Triliun Tambahan Subsidi Bunga KUR
NTB Diguncang Gempa M 6, BMKG Peringatkan Waspada Gempa Susulan
Rupiah Menguat Rp14.095 per Dolar Amerika Seiring Faktor Global

Penusukan Wiranto Disebut Hanya Rekayasa, Ini Kata Pengamat

Headline
Penusukan Wiranto Disebut Hanya Rekayasa, Ini Kata Pengamat Menkopolhukam Wiranto (Foto: Antara)

Pantau.com - Pengamat intelijen Ngasiman Djoyonegoro menunjukkan bahwa masyarakat belum benar-benar menyadari keberadaan kelompok radikal teroris di negara ini. Hal itu menanggapi adanya isu bahwa kejadian penyerangan terhadap Menkopolhukam Wiranto disebut hanya rekayasa belaka.

Simon menilai saat ini perlu terus dilakukan literasi yang benar terkait bahaya terorisme dan juga keberadaan serta aktivitas kelompok radikal teroris itu kepada masyarakat.

"Kita semua punya kewajiban mengajak masyarakat luas untuk melawan tindakan radikalisme dan terorisme dengan memberikan wawasan edukasi literasi yang benar," kata Simon saat dihubungi di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Baca Juga: Penusukan Wiranto Teror Awal Sebelum Pelantikan Presiden?

Kalau ada sebagian kelompok yang masih menganggap tindakan teror, termasuk terhadap Menkopolhukam Wiranto, adalah peristiwa rekayasa, menurutnya anggapan tersebut harus segera diluruskan.

"Kalau ada yang menganggap ini rekayasa, 'play victim' perlu kita luruskan dan beri pemahaman secara utuh tentang bahayanya kelompok ISIS terutama JAD," ungkapnya.

Dari penyelidikan yang dilakukan polisi, kata direktur eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS) itu  jelas pelaku penusukan terhadap Wiranto berasal dari kelompok JAD.

"Kalau kita melihat kelompok-kelompok ini memang menganggap Pak Wiranto selama ini menghalangi gerakan mereka dengan beliau sebagai Menkopolhukan selaku perwakilan pemerintah selalu memberikan sikap tegas dalam pembubaran ormas HTI dan kelompok radikal," tuturnya.

Bagaimanapun, lanjut Simon, di kalangan masyarakat memang masih ada yang rentan terkena atau terpapar terorisme.

Baca Juga: Soal Penusukan Wiranto, Gerindra: Usut Tuntas untuk Tepis Ini Sandiwara!

"Tidak ada masyarakat yang tidak rentan radikalisme dan terorisme. Terbukti sekitar seribu rakyat Indonesia berangkat ke Suriah," kata Simon.

Untuk itu, menurut Simon, kesadaran tentang bahaya radikal terorisme harus terus ditumbuhkan, dan mereka yang kembali ke Indonesia dari Suriah perlu diawasi secara ketat dan dilakukan deradikalisasi.

"Saya kira kita semua sedang melawan apa pun bentuk kekerasan, apalagi ini teror," tandasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Bagaskara Isdiansyah