Penyebar Hoaks Foto Korban Pemanahan di Mataram Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara

Headline
Kepala Polresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi (tengah) bersama anggotanya menunjukkan barang bukti dan dua pelaku penyebar hoaks yang menampilkan foto korban pemanahan dengan menyebut kejadian di Kota Mataram dalam konferensi pers di Mataram, Kamis (26/5/2022). ANTARA/Dhimas B.P.

Pantau – Penyebar berita bohong atau hoaks yang menampilkan foto korban pemanahan dengan menyebut kejadian di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, terancam pidana 6 tahun bui.

Penyebar hoaks dalam kasus ini berinisial EH dan W, warga asal Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Kepolisian Resor Kota Mataram Komisaris Besar Polisi Heri Wahyudi menjelaskan ancaman penjara tersebut sesuai ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 45 ayat 1 juncto Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 19/2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Pasal 28 ayat 1 mengatur tentang setiap orang dengan sengaja tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan. Ketentuan pidana untuk aturan demikian disebutkan dalam Pasal 45 ayat 1, ancamannya 6 tahun penjara,” kata Heri di Mataram, Kamis (26/5/2022).

Dari hasil pemeriksaan sementara, EH terungkap sebagai pihak yang mengunggah foto-foto korban aksi panah di Facebook.

“Melalui akun pribadinya, EH ini mengunggah dengan menyampaikan kejadian tersebut (foto korban panah) di Mataram,” ujarnya.

Untuk motif pelaku mengunggah konten tersebut, karena ingin memberitahukan masyarakat untuk berhati-hati. Foto-foto korban aksi pemanahan yang sebenarnya terjadi di Kota Bima itu didapatkan EH dari rekannya berinisial W.

“Jadi, awalnya W ini membuat status di ‘WhatsApp Messenger’ dengan menampilkan foto-foto korban aksi pemanahan. Kemudian EH ini mencuplik dan mengunggah kembali ke akun Facebook pribadinya,” Heri menjelaskan.

Karena foto-foto unggahannya itu, polisi menangkap kedua pelaku. Dari proses penanganan, Heri memastikan kasus ini masih berjalan di tahap penyelidikan dan akan segera naik ke tahap penyidikan.

Alat bukti terkait kasus ini pun sudah dikantongi penyelidik, diantaranya telepon pintar milik kedua pelaku dan salinan konten maupun status yang menampilkan foto-foto korban aksi panah.

“Nantinya dari alat bukti yang kami dapatkan akan kami gelar untuk menentukan perkara ini akan naik ke tahap penyidikan,” katanya.

Meskipun belum naik ke tahap penyidikan dan menetapkan peran tersangka, Heri memastikan perbuatan kedua pelaku memenuhi unsur pidana yang mengarah pada pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Selain Undang-Undang ITE, perbuatan kedua pelaku mengarah pada pelanggaran pidana Pasal 14 ayat 1 dan 2 Undang-Undang RI Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, yang mengatur tentang sangkaan pidana penyebar berita bohong,” ucap dia. (Antara)

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Aries Setiawan