Peringatan Peristiwa Malari, Rizal Ramli Ungkap Ciri-ciri Penguasa Otoriter

Headline
Rizal RamliRizal Ramli

Pantau.com – Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 atau akrab disebut Malari adalah salah satu catatan sejarah peristiwa kerusuhan besar di masa pemerintahan Orde Baru. Kerusuhan itu terjadi berawal dari aksi penolakan terhadap kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei ke Indonesia serta penolakan dominasi modal asing di Indonesia.

Aksi itu dipimpin oleh para mahasiswa angkatan 1974 dan sejumlah pelajar di Jakarta. Awalnya aksi itu berlangsung damai. Para mahasiswa melakukan aksi menolak modal asing, khususnya produk-produk Jepang yang saat itu melimpah di Indonesia.

Dalam peristiwa tersebut, aksi yang semula berjalan damai itu berujung menjadi kerusuhan, pembakaran, penjarahan yang banyak menjatuhkan korban jiwa serta kerugian materil. Saat itu mahasiswa dituding sebagai dalang dalam insiden tersebut dengan ditangkapnya tokoh-tokoh pimpinan gerakan mahasiswa yakni Hariman Siregar Cs.

Tudingan sebagai dalang kerusuhan itu pun dibantah oleh mahasiswa, sebab saat itu mereka berdemonstrasi di sekitar wilayah Jalan MH Thamrin, sedangkan aksi kerusuhan pembakaran dan penjarahan terjadi di sekitar wilayah Pasar Senen.

Ekonom senior Rizal Ramli mengungkapkan, mengingat peristiwa bersejarah penolakan modal asing itu yang kemudian akrab dikenal Malapetaka 15 Januari 1974 itu tidak lepas dari sosok aktivis senior Hariman Siregar dan rekan-rekan mahasiswa angkatan 1974 yang memimpin demonstrasi kala itu.

Selain aksi penolakan modal asing yang dipimpin Hariman cs, Rizal juga mengingat Malari 1974 bisa berujung kerusuhan tak terlepas dari peran Letjend (Purn) Ali Moertopo yang pada saat itu menjabat sebagai Deputi Kepala Badan Koordinasi Inteljen Negara (Bakin).

“Saya kalau ingat Malari cuma ingat dua hal. Pertama, aksi massa Hariman dan kawan-kawan. Kedua, itu sengaja dibuat rusuh kok, yang bakar-bakaran itu orang-orang suruhannya Ali Moertopo. Itulah ciri-ciri dari pemerintahan otoriter,” kata RIzal Ramli saat memberikan sambutan pada acara peringatan 48 tahun peristiwa Malari 1974, yang diselenggarakan oleh Indonesia Demokrasi Monitor (Indemo), yang disiarkan akun YouTube Indosatu News, Sabtu, 15 Januari 2022.

Rizal mencontohkan gerakan rakyat belakangan ini yang selalu disisir dengan operasi-operasi senyap. Padahal, menurutnya, rakyat hanya menginginkan perubahan secara baik dan damai.

“Setiap mau terjadi sesuatu selalu diupayakan supaya ada kerusuhan. Pada pilpres (2019) kemarin, sengaja ada 300 preman yang tato kiri-kanan, kalau Islam kan enggak mungkin. Mahasiswa kan tato paling cuma 5 biji, dikerahkan ke depan KPU supaya rusuh supaya disalahkan oposisi,” katanya.

“Jadi, teknik penguasa otoriter itu melakukan operasi intelijen agar supaya bikin rusuh, agar supaya teman-teman yang ingin perubahan dengan cara damai, baik, itu bisa disalahkan dan disikat,” Rizal menambahkan.

Sementara itu, Hariman Siregar, tokoh pimpinan gerakan mahasiswa 1974 sekaligus aktor peristiwa Malari dalam sambutanya mengatakan, pasca reformasi semakin lama proses demokrasi seperti telah dibajak oleh sejumlah kelompok yang menguasai modal (uang).

“Jadi saya melihat kita sudah dibajak dengan uang. Yang saya tak menyangka makin ke sini makin kuat sekali modal itu, sehingga yang tadinya para pemilik modal itu biasanya duduk di belakang kini sekarang sudah duduk di pemerintahan,” ungkap Hariman.

Hariman menambahkan, situasi saat ini, mereka yang duduk di pemerintahan bukan lagi memikirkan bagaimana menyejahterakan rakyat, bukan lagi berpikir untuk membuat rakyatnya itu bebas dari ketakutan, kelaparan serta kemiskinan.

“Nah, ini menurut saya perubahan ini sekarang sangat signifikan. Jadi hari ini kita lihat mereka yang duduk di pemerintahan itu bukan lagi memikirkan bagaimana kesejahteraan rakyatnya, membuat rakyatnya itu bebas dari ketakutan kelaparan dan kemiskinan,” ungkap Hariman.

“Jadi kita harus berupaya mengembalikan demokrasi itu agar tidak terseok-seok dengan dasar keadilan dan kesejahteraan,” kata Hariman.

Kondisi saat ini, kata Hariman, jangan ada lagi konsentrasi lebih kepada seseorang. Menurut ia, kalau semua konsentrasi itu hanya ditujukan kepada seseorang, maka tidak akan ada lagi proses demokrasi dan keadilan.

“Nah itu yang terjadi pada kondisi kita hari ini. Demokrasi itu keadilan dan kesejahteraan. Kalau hanya terkonsentrasi kepada seseorang maka tidak akan ada lagi itu proses demokrasi dan keadilan,” tegas Hariman.

Hariman menegaskan, peringatan acara 48 tahun peristiwa Malari bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan untuk mengingatkan kembali tentang apa yang mesti diperjuangkan untuk negara Indonesia.

“Saya bilang sama anak muda, kalau kalian punya niat baik dalam berjuang pasti sampai. Tapi kalian kalau punya niat untuk kepentingan yang buruk, pasti celaka di tengah jalan,” ucapnya.

“Jadi semoga acara ini bukan semata-mata untuk nostalgia, walaupun nostalgia itu juga penting, ya. Tapi sebenarnya acara ini untuk mengingatkan kita kembali tentang apa yang mesti kita perjuangkan untuk negara kita,” katanya.

Tim Pantau
Editor
Aries Setiawan
Penulis
Tim Pantau.com